<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gauli(dot)Com &#187; unek-unek</title>
	<atom:link href="http://www.gauli.com/category/unek-unek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gauli.com</link>
	<description>Timbunan Segala Hal Yang Terpikir</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 08:41:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Privacy, dulu dan kini</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/11/04/privacy-dulu-dan-kini/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=privacy-dulu-dan-kini</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/11/04/privacy-dulu-dan-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 07:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>
		<category><![CDATA[data pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[gps]]></category>
		<category><![CDATA[privacy]]></category>
		<category><![CDATA[tracking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya. Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.</p>
<p>Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.</p>
<p>Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.</p>
<p>Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.</p>
<p>Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.</p>
<p>Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.</p>
<p>Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.</p>
<p>GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.</p>
<p>Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.</p>
<p>Jadi&#8230;.. berhati-hatilah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/11/04/privacy-dulu-dan-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/06/05/ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/06/05/ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 17:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya &#8220;terlupakan&#8221;. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya. Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya &#8220;terlupakan&#8221;. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.</p>
<p>Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?</p>
<p>Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?</p>
<p>Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.</p>
<p>Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah &#8220;akan kami tindak lanjuti&#8221; yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.</p>
<p>Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?</p>
<p>Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya &#8220;barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui&#8221;.</p>
<p>Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/06/05/ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku: Paman Gober Edisi 114 Tahun 16</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/03/10/resensi-buku-paman-gober-edisi-114-tahun-16/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=resensi-buku-paman-gober-edisi-114-tahun-16</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/03/10/resensi-buku-paman-gober-edisi-114-tahun-16/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 19:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Udah lama pengen  nulis ini tapi kelupaan mulu. Saya adalah penggemar buku dan salah satunya termasuk penggemar donald bebek dan keluarganya. Setiap bulan selalu membeli buku2x baru. Bahkan hari ini sangat kebetulan sekali, ditoko buku yang menjual buku2x bekas saya memborong buku2x &#8220;Paman Gober&#8221; edisi tahun 2 dan tahun 1. hehehe. Tapi ketika membaca &#8220;Paman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Udah lama pengen  nulis ini tapi kelupaan mulu.</p>
<p>Saya adalah penggemar buku dan salah satunya termasuk penggemar donald bebek dan keluarganya. Setiap bulan selalu membeli buku2x baru. Bahkan hari ini sangat kebetulan sekali, ditoko buku yang menjual buku2x bekas saya memborong buku2x &#8220;<strong><em>Paman Gobe</em>r</strong>&#8221; edisi tahun 2 dan tahun 1. hehehe.</p>
<p>Tapi ketika membaca &#8220;<em><strong>Paman Gober</strong></em>&#8221; Edisi 114 Tahun 16,  dihalaman 77, cerita berjudul &#8220;<em><strong>Super Donal: Harta Dolce Paprika</strong></em>&#8220;, rasanya agak lain. Cerita ini mengisahkan bagaimana sang Super Donald, melakukan aksi balas dendam karena ketidak sukaannya pada Paman Gober dan kekesalannya karena Desi akan pergi ke pesta dengan Untung Bebek dengan melakukan FITNAH.</p>
<p>Cerita sejenis ini rasanya koq lain dengan kebiasaan-kebiasaan kisah cerita dari Walt Disney&#8217;s ini ?</p>
<p>Tidakkah mereka sadar kisah seperti ini seharusnya tidak layak dan tidak sepantasnya di terbitkan karena akan menjadi pelajaran buruk bagi anak2x yang membacanya.</p>
<p>Seharusnya editor lebih meneliti kembali kualitas kisah2x yang akan diterbitkan dong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/03/10/resensi-buku-paman-gober-edisi-114-tahun-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/02/26/permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/02/26/permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 00:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen. Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ? Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.</p>
<p>Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?</p>
<p>Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.</p>
<p>Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.</p>
<p>Rasanya perlakuan permen menjadi alat <span style="text-decoration: line-through;">pembayaran</span> kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.</p>
<p>Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong &#8220;<em>Permen sebagai mata uang RI</em>&#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/02/26/permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Tempat Bermain Anak di Mall</title>
		<link>http://www.gauli.com/2007/08/10/peraturan-tempat-bermain-anak-di-mall/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=peraturan-tempat-bermain-anak-di-mall</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2007/08/10/peraturan-tempat-bermain-anak-di-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 04:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2007/08/10/peraturan-tempat-bermain-anak-di-mall/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah ada yang memperhatikan kalau peraturan tempat bermain di dalam mall itu sering kali berisi pelepasan tanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri anak-anak yang sedang bermain ? Bahkan tetap harus bertanggung jawab atas &#8220;kerusakan tambahan&#8221; yang mungkin terjadi ?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://images.mprasodjo.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Rrvr3AoKCp8AAEYIrzs1/dsc00005.jpg?et=yCbXrPYqGM7Elc33eOBGRA" title="Peraturan Tempat Bermain Anak" alt="Peraturan Tempat Bermain Anak" height="357" width="353" /></p>
<p><span class="insertedphoto">Pernah ada yang memperhatikan kalau peraturan tempat bermain di dalam mall itu sering kali berisi pelepasan tanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri anak-anak yang sedang bermain ? Bahkan tetap harus bertanggung jawab atas &#8220;kerusakan tambahan&#8221; yang mungkin terjadi ?<br />
<a href="http://mprasodjo.multiply.com/photos/hi-res/upload/RrvrXQoKCp8AAEF5dfQ1"><center><span class="insertedphoto"></span></center></a><a href="http://mprasodjo.multiply.com/photos/hi-res/upload/RrvrXQoKCp8AAEF5dfQ1"><br />
</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2007/08/10/peraturan-tempat-bermain-anak-di-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan Yang Menjadi Candu</title>
		<link>http://www.gauli.com/2007/04/26/pengetahuan-yang-menjadi-candu/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pengetahuan-yang-menjadi-candu</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2007/04/26/pengetahuan-yang-menjadi-candu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 08:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2007/04/26/pengetahuan-yang-menjadi-candu/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin gua ditanya tentang, &#8220;bisa bantu tau seseorang ngak ?&#8221;. Singkatnya gua jawab, &#8220;bisa&#8221;. Tapi tau sadar ngak kalau hal seperti ini bisa menjadi candu ? Ketika kita tidak mengetahui sama sekali tentang sesuatu, biasanya kita akan cuek saja dengan keadaan. Bahkan mungkin timbul kondisi tidak mau tahu. Tapi disaat lain, ketika kita mulai mengetahui, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin gua ditanya tentang, &#8220;bisa bantu tau seseorang ngak ?&#8221;. Singkatnya gua jawab, &#8220;bisa&#8221;.<br />
Tapi tau sadar ngak kalau hal seperti ini bisa menjadi candu ?</p>
<p>Ketika kita tidak mengetahui sama sekali tentang sesuatu, biasanya kita akan cuek saja dengan keadaan. Bahkan mungkin timbul kondisi tidak mau tahu.</p>
<p>Tapi disaat lain, ketika kita mulai mengetahui, biasanya kita menginginkan yang lebih lagi. Misalnya bila kamu mengetahui pasanganmu suka berbohong. Sekali kita mendapatkannya, mungkin kita akan terus melihat dan memantaunya. Sekali kamu bisa dengan mudah tau apa saja isi dompetnya, mungkin dengan gampang kamu bakalan terus ngelirik dan tanpa sadar terus ngelirik.</p>
<p>Ini sih pengalaman pribadi gua sendiri. Gua orang yang selalu pengen tahu segala macam. Gua demen banget yang namanya ngebaca, meneliti, eksperimen. Sampai-sampai dulu gua ngak terlalu peduli berapa duit yang gua keluarin untuk semua &#8220;pelajaran&#8221; gua.<br />
Bayangin aja. Siapa sih orang yang bikin lab fiber, X.25, SS7 dan lain-lain buat lab pribadi dirumah ? Kira-kira sendiri deh berapa duit yang gua keluarin buat itu. Kebayangkan kemana larinya semua duit gua selama ini. hehe</p>
<p>Tapi benar. Sekali elu ngerasain kenikmatan ketika bisa melakukan sesuatu mungkin sekali elu bakalan kecanduan untuk selalu tau dan tau apapun tanpa sadar berapa banyak waktu dan tenaga telah dihabiskan.</p>
<p>Dan akhirnya tanpa sadar kamupun akan berdiri disamping &#8220;pecinta misteri&#8221; dan menjadi bagian dari &#8220;dewa pengetahuan&#8221;.</p>
<p>Pesan moral gua : Pilih pengetahuan yang baik untuk di candui atau berjuang untuk berhenti dititik dimana kamu masih bisa kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2007/04/26/pengetahuan-yang-menjadi-candu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(UN)proxl Bagian 3</title>
		<link>http://www.gauli.com/2007/03/22/unproxl-bagian-3/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=unproxl-bagian-3</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2007/03/22/unproxl-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2007 11:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2007/03/22/unproxl-bagian-3/</guid>
		<description><![CDATA[Menyambung http://mprasodjo.multiply.com/journal/item/463 Hari ini sebagai kelanjutan masalah kemarin yang menurut *katanya* akan diselesaikan hari ini, telah terjadi pembicaraan yang sangat aneh. Sedikit potongan email tanggal 6 Februari, agar sedikit mengetahui duduk perkaranya. &#8212;&#8212;&#8212;cut&#8212;&#8212;&#8212;- > cetak billingnya adalah tanggal 16/month. Karena sekarang sudah > tanggal 06 Feb’07, Saya sarankan untuk pengaktifannya nanti saja > setelah tgl. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyambung http://mprasodjo.multiply.com/journal/item/463</p>
<p>Hari ini sebagai kelanjutan masalah kemarin yang menurut *katanya* akan diselesaikan hari ini, telah terjadi pembicaraan yang sangat aneh.</p>
<p>Sedikit potongan email tanggal 6 Februari, agar sedikit mengetahui duduk perkaranya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;cut&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
> cetak billingnya adalah tanggal 16/month. Karena sekarang sudah<br />
> tanggal 06 Feb’07, Saya sarankan untuk pengaktifannya nanti saja<br />
> setelah tgl. 16 Feb’07. Sebab apabila diaktifkan sekarang mungkin<br />
> pemakaiannya jadi tidak genap 1 bln/tdk maksimal, kecuali memang Pak<br />
&#8212;&#8212;&#8212;-cut&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>dijawab oleh rekan saya</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
(Cut nama marketingnya)<br />
Ok confirm aktifkan tanggal 16 Feb 07.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>dijawab balik dari sang marketing</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Siap! Pak (cut nama rekan saya)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Dan hari ini, dalam pembicaraan ter-record begitu pula dengan sms pihak XL mengatakan kurang lebih sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Seharusnya konfirmasi ini dilakukan pada saat diaktifkan. Cara konfirmasi seperti diatas adalah salah. Jadi kejadian ini bukan murni kesalahan pihak XL tapi kesalahan KEDUA BELAH PIHAK&#8221;</p>
<p>*Gubrakkkkkkkkkkkkkk !!!!!!!!!!!!!!!!!!</p>
<p>Pertanyaaan : Kapan peraturan ini dibuat ? baru saja ? setahun lalu ? di jaman peradaban maya ? Lalu diatas itu bukan sebuah konfirmasi bahwa kedua belah pihak setuju pengaktifan dilakukan tanggal 16 feb ? apakah ada peraturan seperti itu ?</p>
<p>*oot dikit, terpikir: ini aku salah telp kali yaa, ini perusahaan telekomunikasi kan bukan jasa badut ? jangan2x telkom ngacok lagi jadi salah sambung.</p>
<p>Jadi inti pembicaraan adalah, karena marketing yang sekarang adalah marketing pengganti (jadi dari bulan oktober, ini marketing yg ke-3 karena yang sebelumnya resign) maka dia menunggu keputusan dari yang lebih tinggi alias tidak bisa memutuskan apapun dan sedang berusaha menghubungi marketing sebelumnya yang membuat konfirmasi tersebut untuk penyelesaiannya.</p>
<p>Nampaknya disini akan terjadi lempar melempar tanggung jawab. Sementara sang pelanggan dibiarkan termanggu menatap tagihan yang tetap belum berubah hingga saat ini ditulis masih tercantum 1.6 juta.</p>
<p>Kemudian saya diminta tetap membayar Rp. 249.000 dahulu untuk pelayanan yang tidak bisa dinikmati selama 10 hari ini. Tanggapan saya ???? SAYA TIDAK BERSEDIA !!!!! Apalagi tadi iseng saya mengecek di ATM tagihan saya tetap 1.6juta.</p>
<p>Menurut pihak XL hal tersebut karena belum dilakukan perubahan setting.</p>
<p>Saya jadi ingin mencoba membuat counting yang sama dengan yang saya lakukan dulu untuk perusahaan lain sekelas XL. Mari kita lihat kira2x bagaimana kecepatan respon, goodwill dari perusahaan sekelas XL agar bisa dinilai oleh masyarakat umum mengenai kualitas pelayanannya sehingga dapat tercipta seleksi alam.</p>
<p>Dan kali ini, seperti sebelumnya, saya akan menyertakan semua nama dan bukti dalam bentuk email dan rekaman pembicaraan, begitu counting saya mulai.</p>
<p>Tapi seharusnya sebagai sebuah perusahaan yang *telah merasa* internasional bisa memberikan pelayanan yang baik dengan memperhatikan aturan service dan komplain. Rasanya followup dengan cara melempar-lempar masalah seperti ini bukanlah sebuah gambaran yang baik dari sebuah perusahaan layanan publik yang vital seperti ini.</p>
<p>*Sedang menulis versi lengkapnya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2007/03/22/unproxl-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

