<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gauli(dot)Com &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://www.gauli.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gauli.com</link>
	<description>Timbunan Segala Hal Yang Terpikir</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 08:41:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Salah Pemberitaan dan Hak Jawab</title>
		<link>http://www.gauli.com/2011/08/22/salah-pemberitaan-dan-hak-jawab/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=salah-pemberitaan-dan-hak-jawab</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2011/08/22/salah-pemberitaan-dan-hak-jawab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 15:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Kesalahan komunikasi dalam sebuah organisasi, sekecil apapun, ternyata bisa berakibat sangat fatal. Kadang bukan hanya dalam lingkup keorganusasian, ternyata pada akhirnya bisa merembet ke pribadi masing masing pengurus dan anggota. Apalagi jika ditambah nafsu &#8220;mencari siapa yang salah-dan bukan saya&#8221; berujung debat kusir tanpa akhir. Itulah cerita yang saya dengar belakangan ini.  Sebagai seorang wartawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesalahan komunikasi dalam sebuah organisasi, sekecil apapun, ternyata bisa berakibat sangat fatal. Kadang bukan hanya dalam lingkup keorganusasian, ternyata pada akhirnya bisa merembet ke pribadi masing masing pengurus dan anggota. Apalagi jika ditambah nafsu &#8220;mencari siapa yang salah-dan bukan saya&#8221; berujung debat kusir tanpa akhir. Itulah cerita yang saya dengar belakangan ini.</p>
<p><span id="more-204"></span> Sebagai seorang wartawan (walau baru jadi wartawan 1994), media relation and communications consultant dan punya sedikit pengalaman di bidang EO, saya melihat permasalahan yang terjadi sangat sederhana. Misskomunikasi, lack of coordination, rasa nyaman dan kebiasaan wartawan terhadap orang tertentu di organisasi tersebut sehingga saat dia butuh quotation (yang biasanya penting untuk berita tapi tidak disediakan oleh press release standard) akhirnya dia menganggap contact yang selama ini digunakan masih berlaku, adalah sumber permasalahannya (dugaan sementara karena tidak mau menentukan siapa yang salah).</p>
<p>Walau bagaimanapun, kesalahan pemberitaan oleh media sepenuhnya adalah tanggung jawab PR terutama yang berhubungan dengan wartawan si penulis berita. Bahwa wartawan merubah release, atau wartawan tidak menyampaikan informasi dengan benar, tidak dapat diterima sebagai alasan pembenaran seorang PR. Selalu muncul pertanyaan, kenapa wartwana bisa salah tulis, dan salah mengerti release yang PR keluarkan? Apakah releasenya tidak memenui kebutuhan wartawan? kurang informatif? tidak dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain kecuali si PR? atau sang PR tidak dapat dihubungi saat sang wartawan ada pertanyaan?</p>
<p>Penyelesaiannya pun mudah, tergantung apa yang diinginkan organisasi tersebut.</p>
<p>Cara pertama, meminta sang wartawan untuk mengkoreksi beritanya (tanpa melibatkan institusi si wartawan). Tentu saja orang yang mengkontak si wartawanlah yang harus melakukan aksi ini dengan pertimbangan, menjaga nama baik organisasi dan menghindari kesan buruk (tidak terorganisir dan ada gonjang ganjing di organisasi tersebut) di mata orang luar, serta alasan kedekatan emosional antara si pemberi rilis dengan wartawan.</p>
<p>Sedangkan cara kedua adalah hak jawab. Hal ini akan melibatkan isntitusi yang dapat mengakibatkan minimal teguran si kantor pemberitaan terhadap sang wartawan. Jika si wartawan merasa &#8220;sakit hati&#8221; berakibat buruknya hubungan dengan si wartawan (baik organisasi maupun si pemberi rilis) dan akan sulit mendapat pemberitaan dikemudian hari.</p>
<p>Cara ketiga: Lupakan saja toh nanti orang lupa. Pertimbangannya adalah teori media relation dimana pemberitaan yang salah tidak akan pernah dapat diralat 100%</p>
<p>Cara pertama dan terakhir mungkin tidak terlalu sulit dimengerti. Sedangkan cara kedua tidak semua orang familiar dengan istilah hak jawab ini. Hak jawab (droit de re·ponse) salah satu elemen penting dlm perkembngan pers di Indonesia. Sebenarnya hak jawab sudah lama dikenal di Indonesia. Pada jaman kolonial, hak jawaab diatur dlm Reglement op de Drukwerken(staatsblad 186-74). Sedangkan hak jawab yang kita kenal dan gunakan sekarang ini, diatur dalam Kode Etik Jurnalistik wartawan Indonesia dan UU No. 40 thn 1999 tentang Pers. Diadaptasi dari &#8220;Cannon of Journalisme&#8221; atau kode etik wartawan Amerika Serikat. Diperkenalkan 1947, setahun setelah kelahiran PWI.</p>
<p>Secara umum, dapat dikatakan bahwa Hak jawab Adalah Hak warga yang merasa dirugikan karena kekeliruan pemberitaan Pers, hanya diberikan kepada Pers yang mempublikasikan dan tidak kepada pers yang lain serta wajib diberikan secara gratis. Sebenarnya Hak Jawab merupakan solusi yang terlambat karena diberikan setelah berita ditulis atau istilah kerennya &#8220;Damage has been done&#8221;. Atau seperti yang saya tulis diatas, kesalahan pemberitaan tidak dapat diralat. Tentu mencegah itu lebih baik daripada memperbaiki. Itu sebabnya sebuah rilis harus diperiksa berulangkali sampai benar benar akurat, kontak person dan spoke person harus mudah dihubungi media dan ditetapkan satu orang saja serta menguasai permasalahan (media relation tidak harus menjadi spoke person lho, tapi jika sudah ditunjuk spoke person, sebaiknya media relation tidak sok tau dan berbicara. Segala bentuk pertanyaan harus direver ke spoke person).<br />
Namun memperbaiki masih lebih baik daripada terlambat atau tidak melakukan apa-apa sama sekali.</p>
<p>Secara khusus, hak jawab merupakan Hak koreksi yang merupakan hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain (Pasal 11 dan 12 UU UU No 40 Thn 1999 dan Penjelasan Pasal 11 Kode Etik Jurnalistik) dan Pers WAJIB melayani Hak Jawab (Pasal 5 Ayat (2) UU No 40 Tahun 1999).</p>
<p>Urutan langkah yang harus dilakukan sebelum menggunakan hak jawab adalah Klarifikasi, Media visit dan Wawancara ulang. Selanjutnya apabila tidak berhasil, hendaknya menempuh langkah Mediasi melalui Dewan Pers dan menurut Pasal 10 Kode Etik Jurnalistik “Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa”.</p>
<p>Sedangkan langkah yang sama sekali tidak boleh dilakukan adalah Menyuap, menyampaikan gugatan pengadilan dengan menggunakan pasal pencemaran nama baik/perbuatan tidak menyenangkan dan memuat iklan/advertorial yang menyalahi kode etik periklanan.<br />
Kenapa dilakukan Mediasi melalui Dewan Pers bukan ke Pengadilan Pidana?<br />
Kinerja jurnalistik adalah soal akurat atau tidak akurat, bukan soal benar atau salah, sepanjang dilakukan dengan prosedur yang benar. Bisa dikatakan tulisan wartawan bisa juga salah sehingga karenanya ada mekanisme pelaporan ke Dewan Pers. Dewan Pers lah yang menjadi “hakim” buat wartawan. Wartawan selayaknya dihukum bukan karena isi berita tapi karena salah dalam menjalankan prosedur jurnalistik. Pers yang baik akan tunduk pada keputusan dewan pers karena hukuman terberat bagi insan pers adalah dikucilkan dari komunitas wartawan.</p>
<p>Dewan Pers memberlakukan pedoman hak jawab, berdasarkan rapat pleno dewan pers tanggal 29 Oktober 2008 yang diikuti komunitas pers dan perwakilan masyarakat. Ketua Dewan Pers mengakui sulitnya merumuskan Pedoman Hak Jawab karena persoalannya kompleks. Padahal, Hak Jawab ini penting sebagai ukuran salah satu cara mengekspresikan kebebasan pers.<br />
Inilah pedoman hak jawab secara lengkap:</p>
<p>Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud dari kedaulatan rakyat berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia. emerdekaan pers perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan asyarakat, bangsa, dan negara.<br />
Pelaksanaan kemerdekaan pers dapat diwujudkan oleh pers yang merdeka, profesional, patuh pada asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta Kode Etik Jurnalistik.<br />
Dalam menjalankan peran dan fungsinya, pers wajib memberi akses yangproporsional kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi memelihara kemer-dekaan pers dan menghormati Hak Jawab yang dimiliki masyarakat. Untuk<br />
itu, Pedoman Hak Jawab ini disusun:<br />
1. Hak Jawab adalah hak seseorang, sekelompok orang, organisasi atau badan hukum untuk menanggapi dan menyanggah pemberitaan atau karya jurnalistik yang melanggar Kode Etik Jurnalistik, terutama kekeliruan dan ketidakakuratan fakta, yang merugikan nama baiknya kepada pers yang memublikasikan.<br />
2. Hak Jawab berasaskan keadilan, kepentingan umum, proporsionalitas, dan profesionalitas.<br />
3. Pers wajib melayani setiap Hak Jawab.<br />
4. Fungsi Hak Jawab adalah:<br />
a. Memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat;<br />
b. Menghargai martabat dan kehormatan orang yang merasa dirugikan akibat pemberitaan pers;<br />
c. Mencegah atau mengurangi munculnya kerugian yang lebih besar bagi masyarakat dan pers;<br />
d. Bentuk pengawasan masyarakat terhadap pers.<br />
5. Tujuan Hak Jawab untuk:<br />
a. Memenuhi pemberitaaan atau karya jurnalistik yang adil dan berimbang;<br />
b. Melaksanakan tanggung jawab pers kepada masyarakat;<br />
c. Menyelesaikan sengketa pemberitaan pers;<br />
d. Mewujudkan iktikad baik pers.<br />
6. Hak Jawab berisi sanggahan dan tanggapan dari pihak yang dirugikan.<br />
7. Hak Jawab diajukan langsung kepada pers yang bersangkutan, dengan tembusan ke Dewan Pers.<br />
8. Dalam hal kelompok orang, organisasi atau badan hukum, Hak Jawab diajukan oleh pihak yang berwenang dan atau sesuai statuta organisasi, atau badan hukum bersangkutan.<br />
9. Pengajuan Hak Jawab dilakukan secara tertulis (termasuk digital) dan ditujukan kepada penanggung jawab pers bersangkutan atau menyampaikan langsung kepada redaksi dengan menunjukkan identitas diri.<br />
10. Pihak yang mengajukan Hak Jawab wajib memberitahukan informasi yang dianggap merugikan dirinya baik bagian per bagian atau secara keseluruhan dengan data pendukung.<br />
11. Pelayanan Hak Jawab tidak dikenakan biaya.<br />
12. Pers dapat menolak isi Hak Jawab jika:<br />
a. Panjang/durasi/ jumlah karakter materi Hak Jawab melebihi pemberitaan atau karya jurnalistik yang dipersoalkan;<br />
b. Memuat fakta yang tidak terkait dengan pemberitaan atau karya jurnalistik yang dipersoalkan;<br />
c. Pemuatannya dapat menimbulkan pelanggaran hukum;<br />
d. Bertentangan dengan kepentingan pihak ketiga yang harus dilindungi secara hukum.<br />
13. Hak Jawab dilakukan secara proporsional:<br />
a. Hak Jawab atas pemberitaan atau karya jurnalistik yang keliru dan tidak akurat dilakukan baik pada bagian per bagian atau secara keseluruhan dari informasi yang dipermasalahkan;<br />
b. Hak Jawab dilayani pada tempat atau program yang sama dengan pemberitaan atau karya jurnalistik yang dipermasalahkan, kecuali disepakati lain oleh para pihak;<br />
c. Hak Jawab dengan persetujuan para pihak dapat dilayani dalam format ralat, wawancara, profil, features, liputan, talkshow, pesan berjalan, komentar media siber, atau format lain tetapi bukan dalam format iklan;<br />
d. Pelaksanaan Hak Jawab harus dilakukan dalam waktu yang secepatnya, atau pada kesempatan pertama sesuai dengan sifat pers yang bersangkutan;<br />
1) Untuk pers cetak wajib memuat Hak Jawab pada edisi berikutnya atau selambat-lambatnya pada dua edisi sejak Hak Jawab dimaksud diterima redaksi.<br />
2) Untuk pers televisi dan radio wajib memuat Hak Jawab pada program berikutnya.<br />
e. Pemuatan Hak Jawab dilakukan satu kali untuk setiap pemberitaaan;<br />
f. Dalam hal terdapat kekeliruan dan ketidakakuratan fakta yang bersifat menghakimi, fitnah dan atau bohong, pers wajib meminta maaf.<br />
14. Pers berhak menyunting Hak Jawab sesuai dengan prinsip-prinsip pemberitaan atau karya jurnalistik, namun tidak boleh mengubah substansi atau makna Hak Jawab yang diajukan.<br />
15. Tanggung jawab terhadap isi Hak Jawab ada pada penanggung jawab pers yang memublikasikannya.<br />
16. Hak Jawab tidak berlaku lagi jika setelah 2 (dua) bulan sejak berita atau karya jurnalistik dipublikasikan pihak yang dirugikan tidak mengajukan Hak Jawab, kecuali atas kesepakatan para pihak.<br />
17. Sengketa mengenai pelaksanaan Hak Jawab diselesaikan oleh Dewan Pers. Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers yang tidak melayani Hak Jawab selain melanggar Kode Etik Jurnalistik juga dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp.500.000.000, 00 (Lima ratus juta rupiah).</p>
<p>(dari berbagai sumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2011/08/22/salah-pemberitaan-dan-hak-jawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Kertas Putih dan Anakku</title>
		<link>http://www.gauli.com/2011/07/28/teori-kertas-putih-dan-anakku/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=teori-kertas-putih-dan-anakku</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2011/07/28/teori-kertas-putih-dan-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 13:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles, secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau berwarna lain, adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Bagaimana dia jadinya kelak, tergantung bagaimana orang tuanya menorehkan pena kehidupan, bagaimana lingkungan dan dunia memberikan warnanya. Teori pelaziman klasik, teori pelaziman operan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>T</strong>eori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles, secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau berwarna lain, adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Bagaimana dia jadinya kelak, tergantung bagaimana orang tuanya menorehkan pena kehidupan, bagaimana lingkungan dan dunia memberikan warnanya.</p>
<p><span id="more-176"></span>Teori pelaziman klasik, teori pelaziman operan dan social learning theory juga merupakan produk dari aliran ini.</p>
<p>Lalu aliran ini disempurnakan oleh aliran baru dalam dunia psikologi yaitu  humanistik. Secara garis besar bisa dikatakan bahwa psikologi humanistik melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisis dan behaviorisme dengan memasukan aspek positif yang menentukan seperti cinta , kreativitas , nilai makna dan pertumbuhan pribadi. Psikologi Humanistik banyak mengambil penganut Psikoanalisis Neofreudian. Asumsi dasar aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan</p>
<p>Selanjutnya konsep dari tokoh aliran psikologi humanistik, yaitu Abraham Maslow, menyatakan “studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya, mutlak menjadi fondasi bagi sebuah ilmu psokologis yang lebih semesta( Frank Goble,1993,34 )&#8221;. Aliran ini mengatakan bahwa ia lebih melihat pada yang mungkin dan harus ada, daripada metode statistik yang serba rata rata. Dikatakan bahwa Psikologis humanistik tidak menekankan penelitian eksperimen pada &#8220;makluk hidup&#8221; tetapi pada kodrat manusia beserta sifat-sifat manusia yang positip.Dengan demikian pendekatan yang dilakukan bersifat multi displiner lebih luas lagi, da bisa dikatakan lebih menyeluruh menyentuh segala aspek permasalahan umat manusia.  Dalam teorinya  Maslow mengatakan tentang &#8220;Hirarkhi Kebutuhan Manusia&#8221;. Teori ini menyatakan bahwa manusia akan dapat mengaktualisasikan diri dan percaya diri, manakala kebutuhan akan makanan, kesehatan, rasa aman dan diterima dalam suatu kelompok terpenuhi.</p>
<p>Adapun bagan <strong><em>Hirarkhi kebutuhan Abraham Maslow </em></strong>tersebut adalah:</p>
<p align="center">Kebutuhan untuk aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan untuk dihargai: pemberian penghargaan atau reward, mengakui hasil karya individu</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan akan rasa aman dan tentram: lingkungan yang bebas dari segala bentuk ancaman</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan fisiologis dasar: pekerjaan, pendidikan, makanan, pakaian, perumahan</p>
<p> Sebagai seorang ibu yang baru mulai “menggambar” kadang saya berharap ada buku manual pasti yang memberitahu bagaimana caranya menggambar, ukuran dan takaran serta alat yang digunakan. Sayang sekolah dan buku semacam itu tidak ada karena semua harus kita lakukan dan pelajari sendiri. Meskipun banyak buku dan ahli psikologi anak, namun bagi saya pendapat dan teori tersebut hanya sebagai contoh dasar. Sisanya memang harus <em>learning by doing, TRY AND ERROR </em>dengan harapan melakukan kesalahan sesedikit mungkin dengan belajar, membuka panca indera terhadap lingkungan, alam dan pengetahuan.</p>
<p>Tidak mudah memang mengajarkan kehidupan, keimanan, ilmu, disiplin, kasih sayang,  selalu menepati janji, teposliro, sabar dan terus berusaha pantang menyerah serta banyak hal yang akan menjadi bekal hidupnya nanti, dengan hal sederhana. Apalagi membesarkan anak bukan hanya memberikan pelajaran tentang ini itu, atau membuat aturan, atau memberi tahu dan memberikan “textbook”. Saya percaya bahwa anak belajar kehidupan melalui seluruh indranya, pikirannya (otak), emosinya dan hatinya. Mereka tidak hanya mendengar apa yang kita katakan tapi juga melihat dan meniru apa yang kita contohkan. Yang pasti, semua itu tidak mudah, tapi saya percaya bahwa saya bisa. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik, mencukupi kebutuhannya, buka mata, telinga dan hati, bersabar berusaha sebaik mungkin, dan  berdoa. Saya juga berusaha untuk konsisten antara ajaran, dan perbuatan saya sendiri sebagai contoh.  Sisanya saya serahkan pada kehendakNya, alam dan dirinya sendiri.</p>
<p>TIDAK MUDAH MEMANG, TAPI SAYA TAHU SAYA BISA</p>
<p>Shinta K, 23 Juli 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan kritik, Ia belajar untuk menyalahkan.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa benci, Ia belajar bagaimana berkelahi.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan ejekan, Ia belajar menjadi pemalu.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, Ia belajar merasa bersalah.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan toleransi, Ia belajar menjadi sabar.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan semangat, Ia belajar kepercayaan diri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan pujian, Ia belajar untuk menghargai.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa adil, Ia belajar tentang keadilan.</p>
<p>Bila seorang hidup dengan rasa aman, Ia belajar memiliki iman.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan persetujuan, Ia belajar menyukai dirinya sendiri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, Ia belajar mencari cinta dalam dunia.</p>
<p>-</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan kritik, Ia belajar untuk menyalahkan.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa benci, Ia belajar bagaimana berkelahi.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan ejekan, Ia belajar menjadi pemalu.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, Ia belajar merasa bersalah.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan toleransi, Ia belajar menjadi sabar.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan semangat, Ia belajar kepercayaan diri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan pujian, Ia belajar untuk menghargai.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa adil, Ia belajar tentang keadilan.</p>
<p>Bila seorang hidup dengan rasa aman, Ia belajar memiliki iman.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan persetujuan, Ia belajar menyukai dirinya sendiri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, Ia belajar mencari cinta dalam dunia.</p>
<p>- Dorothy Law Nolte -</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anak kecil yang tumbuh dengan kebiasaan</p>
<p>ditakut-takuti bayangan atau suara-suara hantu,</p>
<p>akan tumbuh menjadi remaja</p>
<p>yang takut terhadap yang tidak diketahuinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sehingga mereka menjadi orang dewasa</p>
<p>yang takut terhadap ketidak-pastian masa depan;</p>
<p>karena, yang akan terjadi &#8211; terbayang</p>
<p>sama menakutkannya dengan ancaman momok</p>
<p>di masa kecil mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebaiknya kita tidak menumbuhkan</p>
<p>anak-anak yang penakut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mario Teguh</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung . yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.</p>
<p>“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”</p>
<p>Perahu Kertas,</p>
<p>Kumpulan Sajak, Sapardi Djoko Damono</p>
<p>1982.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2011/07/28/teori-kertas-putih-dan-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Privacy, dulu dan kini</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/11/04/privacy-dulu-dan-kini/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=privacy-dulu-dan-kini</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/11/04/privacy-dulu-dan-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 07:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sharing]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>
		<category><![CDATA[data pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[gps]]></category>
		<category><![CDATA[privacy]]></category>
		<category><![CDATA[tracking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya. Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.</p>
<p>Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.</p>
<p>Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.</p>
<p>Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.</p>
<p>Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.</p>
<p>Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.</p>
<p>Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.</p>
<p>GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.</p>
<p>Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.</p>
<p>Jadi&#8230;.. berhati-hatilah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/11/04/privacy-dulu-dan-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba Zyrex Ellipse EGT270</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/07/07/mencoba-zyrex-ellipse-egt270/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mencoba-zyrex-ellipse-egt270</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/07/07/mencoba-zyrex-ellipse-egt270/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 07:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Mencoba laptop Zyrex Ellipse EGT270 memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Mengapa ? Karena sangat menyebalkan. Wifi Sangat LEMAH !!! Sementara laptop 2x lain dengan gagah mendapatkan sinyal full untuk mengakses akses point berjarak sekitar 5 meter dan line of sign,  dia hanya menari di 1-2 bar. Memasang wifi usb adalah cara terbaik untuk mendapatkan akses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencoba laptop Zyrex Ellipse EGT270 memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Mengapa ? Karena sangat menyebalkan.</p>
<p>Wifi</p>
<p>Sangat LEMAH !!! Sementara laptop 2x lain dengan gagah mendapatkan sinyal full untuk mengakses akses point berjarak sekitar 5 meter dan line of sign,  dia hanya menari di 1-2 bar. Memasang wifi usb adalah cara terbaik untuk mendapatkan akses yang lebih stabil.</p>
<p>USB Port</p>
<p>Lemah. Saat memasang 1 buah mouse, semua normal. Ditambahkan 1 buah harddisk semua normal. Begitu ditambahkan 1 buah flashdisk, harddisk removable dan flashdisk tidak terbaca. Keliatannya powernya tidak mencukupi untuk menhidupi semua harddisk. Sementara versi lamanya bisa dengan tenang melayani 3 buah removable disk.</p>
<p>Akhir kata.</p>
<p>Capeee deee make laptop ini. Musti pasang external usb hub dengan power agar mendapatkan high power usb agar bisa menggunakan 2 media. Capek dengan wifi yang putus nyambung. Capek dengan panas yang menggelora ditangan.</p>
<p>Saya pribadi tidak ingin lagi menggunakannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/07/07/mencoba-zyrex-ellipse-egt270/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/06/05/ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/06/05/ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 17:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya &#8220;terlupakan&#8221;. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya. Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya &#8220;terlupakan&#8221;. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.</p>
<p>Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?</p>
<p>Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?</p>
<p>Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.</p>
<p>Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah &#8220;akan kami tindak lanjuti&#8221; yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.</p>
<p>Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?</p>
<p>Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya &#8220;barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui&#8221;.</p>
<p>Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/06/05/ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/02/26/permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/02/26/permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 00:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen. Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ? Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.</p>
<p>Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?</p>
<p>Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.</p>
<p>Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.</p>
<p>Rasanya perlakuan permen menjadi alat <span style="text-decoration: line-through;">pembayaran</span> kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.</p>
<p>Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong &#8220;<em>Permen sebagai mata uang RI</em>&#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/02/26/permen-sebagai-alat-pembayaran-eh-kembalian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terjebak Dalam Kebohongan Finansial Karena Rasa Sayang</title>
		<link>http://www.gauli.com/2008/08/19/terjebak-dalam-kebohongan-finansial-karena-rasa-sayang/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=terjebak-dalam-kebohongan-finansial-karena-rasa-sayang</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2008/08/19/terjebak-dalam-kebohongan-finansial-karena-rasa-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 08:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[FAQ]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah keluarga, permasalahan ini seringkali muncul. Apa yang akan Anda lakukan jika sanak saudara atau sahabat yang memiliki kebiasaan untuk meminta bantuan keuangan atau meminjam uang dan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak kepada Anda? Ternyata Anda tidak sendirian. Dewi (33th), seorang pegawai swasta yang memiliki gaji lumayan yang dapat membuat hidupnya nyaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Dalam sebuah keluarga, permasalahan ini seringkali muncul. Apa yang akan Anda lakukan jika sanak saudara atau sahabat yang memiliki kebiasaan untuk meminta bantuan keuangan atau meminjam uang dan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak kepada Anda? Ternyata Anda tidak sendirian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span><span id="more-69"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Dewi (33th), seorang pegawai swasta yang memiliki gaji lumayan yang dapat membuat hidupnya nyaman dan kecukupan. Sayangnya, gaji yang seharusnya lebih dari cukup untuk biaya hidup yang menyenangkan dan tabungan hari tua itu entah kemana. Menurut Dewi, gajinya selama ini seperti hanya numpang lewat. &#8220;</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Ada</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> hal lain yang membuatku tidak bisa mencukupi kebutuhanku apalagi menabung. Dan hal lain itu adalah saudaraku sendiri,” kata Dewi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Dewi memiliki seorang saudara perempuan, </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">, yang sedang memiliki masalah keuangan. Bahkan </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> seringkali menggunakan kartu kredit Dewi untuk membeli keperluannya. Sayangnya, </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> sering lupa membayar tagihan dan bunganya. Dia juga sering lupa membayar sewa rumah dan sebagainya, dimana </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> menggunakan nama Dewi sebagai penanggung. Alhasil, Dewi harus menutup tagihan ini ditambah dengan denda keterlambatan. “Biasanya Aku tak tega menagih biaya keterlambatan ini padanya. Padahal aku juga harus membayar tagihan dan keperluanku sendiri,” keluh Dewi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Hal yang sama juga dialami oleh Ina ibunda Sony. Sony sebenarnya sudah menikah dengan Arni. Namun mereka masih tinggal bersama Ina. Mereka juga sudah memiliki satu putra dan penghasilan sendiri. Namun setiap bulan, tak sepeserpun Ina menerima uang dari Sony maupun Arni. “Jangankan untuk belanja bulanan, untuk bayar telepon, listrik bahkan susu anaknyapun dari saya,” kata Ani. Padahal, sebagian besar tagihan yang harus dibayar Ina bukan untuk keperluannya sendiri melainkan keluarga anaknya. Bahkan sang menantu sering dengan entengnya mengatakan “Ma, susu adik habis, beliin dulu ya nanti saya ganti.”<span> </span>Dan tidak pernah sekalipun menantunya itu memberikan gantinya. Hal yang sama juga terjadi saat debt collector datang kerumah menagih hutang pada anak dan menantunya. Seringkali Inalah yang harus menghadapi mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Pinjaman yang terus menerus  dan permintaan bantuan yang tiada akhir ini ternyata menjadi beban emosional tersendiri bagi orang-orang seperti Dewi dan Ina. “Aku sering mencoba mengajaknya bicara dengan baik-baik dan membantu </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> untuk menyelesaikan masalah keuangannya sendiri, mengajarkannya bagaimana melakukan<span> </span>budgeting dan tanggung jawab membayar kredit belanjaannya sendiri,” kata Dewi. &#8220;Tapi sepertinya dia tidak mengerti dan tidak pernah merasa ada yang salah. Ia selalu mengembalikan semuanya padaku,<span> </span>dan selalu berkata bahwa akulah saudaranya satu-satunya tempat dia bersandar. Sebagai saudara, akulah yang harus membantunya. Yang lebih menyakitkan lagi, dia membuatku merasa tidak melakukan apa-apa untuk membantunya dan ingin menelantarkannya.”<span> </span>Bagi Dewi, </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> adalah tanggung jawabnya. “Saya tumbuh dari keluarga yang percaya bahwa keluarga adalah milik kita satu-satunya yang harus dijaga dan didukung sampai bisa berdiri sendiri,” tambah Dewi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Begitu juga dengan Ina. Sony selalu menganggap bahwa wajar jika mereka menjadi tanggung jawab ibunya. “Masak sih ibu mau hitung-hitungan sama anaknya,” kata kata inilah yang selalu membuat Ina diam. Jika Ina mulai meminta bantuan keuangan untuk membayar tagihan, Arni selalu menganggap ibu mertuanya terlalu perhitungan dan akibatnya Inapun bertengkar dengan Sony. Belum lagi jika sang cucu dijadikan “alat “. Meski akhirnya mengalah, Dewi dan Ina tetap merasakan saudara dan anaknya sebagai beban, baik secara ekonomi maupun secara emosional. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Kadang keduanya menatap orang-orang yang dicintainya sambil bertanya “apa yang ka</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">lia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">n lakukan padaku?” namun jawabnya selalu maaf dan cinta. “aku selalu tidak ingin melukai mereka, dan berharap mereka sadar dan berhenti menyakitiku,” kata keduanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Seorang ahli finansial, </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Suze Orman, dalam websitenya mengatakan hal seperti ini terjadi di seluruh dunia. “Mereka jelas saling mengasihi dan saling menjaga satu sama lain, Namun bagaimana jika saya katakan bahwa tindakan yang sehraunya menjadi bukti cinta ini sebenarnya malah akan menghancurkan masa depan orang yang Anda kasihi? Termasuk juga cucu Ina? Akankah mereka masih melakukannya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Menurut Suze, saat bicara tentang uang dan hubungannya dengan orang-orang terdekat, baik itu sahabat maupun saudara kebanyakan orang akan bilang iya. Dan sebagian besar kata iya ini berasal dari ketakutan. “Katakutan akan dianggap tidak sayang lagi, dianggap tidak perduli dan sebagainya. Ketakutan dia tidak akan mencintai Anda lagi, dan hal-hal semacam itu,” kata Suze, “Kita harus belajar untuk berkata tidak pada orang yang kita sayangi, jika saatnya tiba.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Dalam kasus seperti Dewi dan Ina, Suze ingin tahu apa yang mereka kira akan dipikikan </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">, Sony dan Arni serta cucu Ina jika mereka berdua keluar dari kehidupan orang disayanginya secara finansial? Hal ini penting karena jika keputusan itu diambil, tidak boleh tanggung-tanggung. Jangan sampai jika saat ini kita minta melakukan tanggung jawabnya sendiri namun dilain waktu kita memberikan kelonggaran itu kembali. Karena sedikit banyak Dewi dan </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> juga ikut andil dalam permasalahan ini. “jika Anda memperbaiki permasalahan keuangan semacam ini dengan memberikan uang, maka Anda tidak menyelesaikan apapun. Anda membiarkan permasalahan itu tetap ada,” kata Suze. “Memang mengatakan ya dan memberikan apa yang mereka minta merupakan jalan yang terlihat paling mudah, dibanding dengan mengatakan tidak dan membiarkan mereka menghadapi masalah mereka dan belajar menyelesaikannya sendiri dan memahami untuk lebih hati-hati di masa nanti,” tamba Suze.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Meskipun niatnya adalah berbagi, membantu dan saling menjaga, tatapi benarkah demikian? “Sebenarnya yang mereka bagi adalah jalan menuju kegagalan dan kemisikinan. Mereka membagi ketidak berdayaan<span> </span>dan masalah keuangan, bukan uang itu sendiri. Kalau </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> dan Ina membagi uangnya, maka sebaliknya orang yang mereka kasihi membagi “tidak punya apa-apa” mereka,” terang Suze. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Bagi </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Anita</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">, dan Sony sekeluarga, setiap kali mereka berbelanja, mereka menggunakan uang yang tidak pernah mereka miliki, dan ini menjadi sebuah kebiasaan. Setiap kali menghindari tanggung jawab keuangan Mereka dan menikmatinya, maka itu menjadi sebuah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">gaya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> hidup yang sulit diingkari. Dan ini adalah sebuah kebohongan finansial yang menyesatkan. Sebuah kebohongan yang membuat orang yang tidak Anda sayangi terjebak dalam kehidupan keuangan palsu. <span> </span>Mereka tidak berpijak di kaki mereka sendiri dan lebih parahnya lagi, mereka tidak menyadarinya. Andapun telah terjebak dalam kebohongan finansial karena hal ini. Jadi hentikan sekarang juga dan berubah. Hiduplah sebagai diri Anda sendiri, yang bertanggung jawab pada keuangan Anda sendiri. Dan lakukan hal yang sama pada orang disekitar Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2008/08/19/terjebak-dalam-kebohongan-finansial-karena-rasa-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Make up dan Usia</title>
		<link>http://www.gauli.com/2008/07/10/make-up-dan-usia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=make-up-dan-usia</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2008/07/10/make-up-dan-usia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Diusia yang ke 36 ini, aku kadang merasa sedikit boleh berbangga. Maklum, saat jalan jalan di mal atau hang out di kampus, belum banyak yang memanggilku ibu. Memang sih, itu terjadi sebelum kehamilanku, enam bulan yang lalu. Selain itu, aku juga nggak merasa kalau usiaku terlalu tua untuk bergaul dengan teman-teman yang berusia 25an. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">Diusia yang ke 36 ini, aku kadang merasa sedikit boleh berbangga. Maklum, saat jalan jalan di mal atau <span> </span>hang out di kampus, belum banyak yang memanggilku ibu. Memang sih, itu terjadi sebelum kehamilanku, enam bulan yang lalu. Selain itu, aku juga nggak merasa kalau usiaku terlalu tua untuk bergaul dengan teman-teman yang berusia 25an. Bahkan kalau melihat gadis-gadis sekarang yang ke mal dengan tank top, sendal tinggi, dandanan lengkap seperti lipstik, maskara dan sebagainya, aku merasa menjadi lebih muda. Itu mengapa urusan <em>anti aging</em> <span> </span>yang katanya begitu penting bagi para wanita, tidak terlalu menarik perhatianku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-61"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;"> Aku ingat, sampai dengan SMP aku hanya mengenakan makeup saat berada di panggung. Selain itu, peralatan make up yang aku punya hanya bedak bayi dan minyak telon untuk tubuhku sebagai pengganti parfum. Paling tidak, ibuku tidak bilang aku bau matahari </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">kan</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">. Aku tidak mengenal yang namanya <em>handbody</em>, bedak untuk wajah, parfum, cologne apalagi lipstik. Saat itu aku berpikir bahwa semua benda ini adalah benda untuk ibu-ibu dan membuang waktu. Menginjak SMA, karena kegiatanku yang melibatkan make up cukup banyak, aku mulai mengenal urusan satu ini. Tapi sekali lagi, dalam pikiranku, benda-benda ini hanyalah urusan ibu-ibu dan urusan topeng panggung yang tidak ada gunanya aku bawa ke dunia nyata. Saat itu aku berpikir, yang namanya <em>hand body</em>, pelembab dan bedak wajah hanya untuk di panggung. Jangankan make up, urusan sabun mandi dan sampopun, aku nggak perduli. Apa yang ada itulah yang aku pakai. Tak pernah terpikirkan untuk memilih sampo atau sabun yang cocok untuk kulitku, yang baunya harum dan enak di badan atau hal-hal seperti itu. Sampai lulus kuliahpun, menurutku bau yang paling nyaman untuk tetap nempel di tubuhku ya hanya bau bedak bayi plus minyak telon. Aku punya parfum saat SMA yang baru habis saat aku lulus ku</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">lia</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">h S1.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;"> Namun ada sebuah kebiasaan baru yang menarik saat usiaku mendekati 17. Ibuku mulai cerewet dengan kebiasaanku mandi yang sembarangan, cepat tepat dan seperlunya. Itu menurut terjemahanku. Tapi dimata ibuku, cara mandiku yang disebutnya “mandi bebek” bukanlah mandi. Saat itu sering sekali aku disuruh kembali ke kamar mandi agar mandi lebih lama dan lebih bersih. Setelah mandi keributan kembali terjadi hanya aku tidak mau memakai bedak di wajah. Sangat menjengkelkan waktu itu. Tapi ibuku selalu bilang, anak perempuan itu harus dandan. Kadang aku memakai bedak seadanya hanya untuk menghindari teriakan ibu.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">Saat ku</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">lia</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">h, aku mulai sedikit berbedak dan punya lipstik, hadiah ulang tahun dari tanteku. Saat mulai kerja sambil ku</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">lia</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">h inilah mau tidak mau aku harus menjadikan kegiatan make up sebagai bagian dari rutinitas. Meski Cuma sebatas bedak dan lipstik. Kadang teman-teman di kantor gemas dan mulai mengoleskan beberapa warna di mata dan juga di pipiku. Seperti biasa, aku selalu mencoba menikmati semuanya </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">kan</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">Setelah menginjak usia 30 sahabatku mulai cerewet mengenalkan pelembab dan handbody sebagai bagian rutinitasku serta mulai mengajariku memilih sabun dan shampoo. Dan akupun mulai merasa pentingnya menjaga kesegaran kulit, wajah dan tubuhku. Mulailah aku mengenal yang namanya anti aging dan salon. Tentu pertimbangan harga yang efektif dengan perbandingan manfaat masih diatas segalanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;"> </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">Aku mulai menikmati kegiatan ke salon. Meskipun sebenarnya aku lebih mengutamakan keenakan pijitannya dibanding manfaat menjaga kecantikan. Tapi aku masih heran ketika beberapa temanku mulai ribut dengan urusan anti aging. Mereka menghabiskan uangnya hanya untuk terlihat lebih muda. Padahal aku merasa aku masih terlihat muda diusiaku sekarang. Dan lagi matang itu cantik </span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">kan</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;">? Kadang kerutan di sekitar bibir dan mata, uban dan perubahan sesuai usia membuatku merasa menjadi semakin cantik. </span></p>
</div>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: Arial; color: black;">Daftar Penting Untuk <span> </span>Program <em>Anti-Aging</em> Mu</span></strong></p>
<p><span style="font-size: 14pt; font-family: Arial; color: black;"><span> </span></span></div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"><br style="page-break-before: auto;" /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Jika Anda termasuk orang yang selalu khawatir dengan kesehatan dan proses penuaan yang Anda alami, mungkin saran dari Dr. Dr. Oz dan Dr. Roizen tentang anti aging yang dipublikasikan oleh <a href="http://www.oprah.com/">www.Oprah.com</a>. Daftar ini mungkin dapat membantu Anda untuk kembali bersemangat. Tentu saja syaratnya tetap dari dalam diri Anda sensiri. Sebaiknya Anda mengubah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">gaya</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> hidup yang kurang sehat menjadi lebih baik dan lebih sehat, berpikiran positif, berbahagia, hidup teratur, dan Anda akan tampak lebih sehat, lebih baik dan panjang umur. Marilah kita tengok daftar kedua dokter Amerika ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Konsumsi Makanan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Pilihlah makanan yang mengandung Antioksidan (5 macam/hari) seperti yang dikandung makanan-makanan berwarna cerah seperti blueberries, brokoli, wortel, tomat dan dan sayuran segar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Green dan White tea (4 cangkir/ <span> </span>hari) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Red Wine atau Concord grape juice (1 gelas/hari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Makanan yang mengandung serat (25-32 gram/ hari). Serat dapat ditemukan dalam makanan seperti buah-buahan, sayur-mayur, kacang-kacangan, beras merah, pasta gandum dsb. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">DHA Omega-3 (600 mg/hari) Bisa ditemukan dalam kacang-kacangan yang dipanggang atau di sangrai, salmon, telur, rumput laut dsb </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Minyak olive (1-2 sendok teh/hari) Minyak ini jangan dipanaskan atau diasapi, karena Anda akan kehilangan manfaatnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> </span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Exercise</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Berolahraga dan latihlah jantung Anda (3 x seminggu). Pilihlah olah raga yang melatih kekuatan jantung dengan target laju denyut jantung : 220 – (usiamu) x 80</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Temukan laju denyutjantung pelatihan target mu:<span> </span>220 &#8211; [usia mu] X .80 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Lakukan latihan beban yang sesuai <span> </span>(30 menit/minggu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Meditasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Lakukan meditasi, yoga atau berdoa dengan khusuk, menenangkan dan merelekskan diri dan pikiran (minimal 5-10 menit perhari) Hal ini membantu Anda membebaskan </span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Futura-Oblique; color: #333333;">nitric oxide</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> <span> </span>dalam tubuh Anda yang dapat berpengaruh pada rileksasi dan kesehatan pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Tidur dan Sex</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Tidur nyenyak yang cukup (7-8 jam perhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Berhubungan Seks yang sehat (dalam website dikatakan monogamous sexs) (2 sampai 3 kali seminggu) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"><span> </span>Vitamin-vitamin </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Vitamin D (1,000 unit satu hari) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Zat kapur (600 mg dua kali/hari) ditambah Magnesium (200 mg dua kali/hari) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">DHA Omega-3 (600 mg a day)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Baby aspirin (2 buah/day, dengan total keseluruhan 162 milligrams)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; font-family: "><span>o<span style="font-family: "> </span></span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Multivitamin (Minum setengah di pagihari, setengah pada malam hari). Wanita pre-menopausal memerlukan multivitamin yang mengandung zat besi dan 5,000 unit Vitamin A. Sedangkan laki-laki dan wanita postmenopausal hanya memerlukan 2,500 unit vitamin A. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">(Harus diingat, kunjungi dokter Anda untuk konsultasi sebelum memulai program apapun. )</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2008/07/10/make-up-dan-usia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UU ITE: Antara Homosuperior dan Homosapien</title>
		<link>http://www.gauli.com/2008/03/28/uu-ite-antara-homosuperior-dan-homosapien/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=uu-ite-antara-homosuperior-dan-homosapien</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2008/03/28/uu-ite-antara-homosuperior-dan-homosapien/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 08:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2008/03/28/uu-ite-antara-homosuperior-dan-homosapien/</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia sekarang ini telah resmi miliki UU ITE. Tapi apakah efektif ? Dunia ini dihuni oleh sekelompok mahluk homosuperior yang menghuni dunia maya, dan sisanya adalah kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata. Diantara keduanya ada masyarakat kaum ampibi yang hidup di kedua dunia. Kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata, kini berniat menerapkan aturan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia sekarang ini telah resmi miliki UU ITE. Tapi apakah efektif ?</p>
<p>Dunia ini dihuni oleh sekelompok mahluk homosuperior yang menghuni dunia maya, dan sisanya adalah kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata. Diantara keduanya ada masyarakat kaum ampibi yang  hidup di kedua dunia.</p>
<p>Kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata, kini berniat menerapkan aturan dunia mereka pada dunia kaum homo superior yang hidup di dunia maya. Tentunya hal ini hanya dimungkinkan bila mereka memiliki pasukan ampibi yang cukup untuk mengawasi segalanya. Tanpa mengenal dunia maya, jelas akan sulit menerapkan apapun dari dunia nyata kedalamnya. Dan diperlukan <em><strong>pendidikan</strong><strong> yang cukup</strong></em> sehingga tidak terjadi munculnya kaum &#8220;<a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/110444/idnews/914119/idkanal/323"><em>Ampibi Wannabe</em></a>&#8221; yang berkeliaran <em>menuduh ke kiri dan ke kanan</em> tanpa dasar dan pengetahuan yang mungkin bagi kaum homosapien di dunia nyata terdengar hebat tapi merupakan guyonan yang sangat tidak lucu bagi masyarakat dunia maya yang dihuni kaum homosuperior.</p>
<p><span id="more-55"></span>Hal pertama yang diramaikan adalah masalah por**grafi. Kaum dunia nyata berkeinginan memblokir site-site yang berhubungan dengan hal tersebut. Saya sendiri termasuk yang tidak peduli. Mau diblokir atau tidak, tidak ada masalah. Namun harus jelas mana yang boleh dan mana yang tidak. Tetapi mengatasi penjual CD/DVD porno di glodok yang hanya berjarak 30 Meter dari kantor penegak hukum dunia nyata saja tidak pernah berhasil bagaimana mau mengurusi dunia maya ? Dalam salah satu tayangan televisi, pernah ditayangkan kisah itu. Saya tidak tahu sekarang ini, karena mungkin sudah 2 tahun saya tidak mampir ke glodok. Tapi dulu sih mereka memajangnya tanpa malu-malu dipinggir jalan. Dan kalaupun ada penggerebekan, tinggal tunggu waktunya suasana reda, mereka kembali ketempatnya. Seakan-akan penerapannya hanyalah &#8220;<em>Trend Sesaat</em>&#8220;.</p>
<p>Hal lain yang perlu dipikirkan adalah batasan pornografi. Jelas bila kita bertanya pada orang FPI, GusDur, aa Gym, SBY, Para Menteri, dll, bisa memberikan batasan yang berbeda. Lalu batasan seperti apa pornografi yang akan di blokir. Dan akan sangat lucu bila batasan di dunia maya menjadi lebih ketat dibandingkan dengan dunia nyata. Tengok film sinetron. Tengok tabloit-tabloit.</p>
<p>Untuk melakukan pemblokiran, resource dalam bentuk dana dan manusia akan sangat banyak. Mengapa tidak memulai dari hal yang paling dasar. Misalnya dengan pendidikan. Saat ini sudah ada beberapa berita yang mengisahkan robohnya sekolah. Bagaimana pendidikan bisa berjalan baik bila sekolahnya roboh ? Bukankah hal seperti ini lebih krusial ? Belum lagi content filter yang digunakan bila dibuat terpusat. Bagaimana mekanismenya bila terjadi sebuah content terblokir tapi ternyata bukan content terlarang ? Apakah bukannya ini malah menyulitkan ? Karena itu penerapan filter harus dipikirkan masak-masak, dan bukan karena melihat celah terciptanya proyek baru ataupun department baru atau posisi baru atau apapun yang bertujuan negatif.</p>
<p>Tapi yang pasti beberapa hal yang masih menjadi wilayah abu-abu harus segera dipertegas agar tidak terdapat banyak nuansa warna warni yang mengundang pertentangan. Dan dalam persiapannya bagi mereka yang pro dan kontra agar lebih berhati-hati berucap agar suasana tetap enak dan tidak asal menuduh/berucap ucapan apalagi tuduhan yang bodoh tanpa dasar.</p>
<p>Dan yang pasti, karena <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/110444/idnews/914119/idkanal/323">&#8220;MEREKA&#8221;</a> tidaklah bodoh&#8230;.. <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/110444/idnews/914119/idkanal/323">&#8220;MEREKA&#8221;</a> kaum homosuperior yang juga ikut membangun bangsa ini dengan berbagi pengetahuan melalui tulisan mereka yang baik. Tanpa <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/110444/idnews/914119/idkanal/323">&#8220;MEREKA&#8221;</a> tak ada kaum anda <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/110444/idnews/914119/idkanal/323">&#8220;Ampibi Wannabe&#8221;</a>. Dan <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/110444/idnews/914119/idkanal/323">&#8220;MEREKA&#8221;</a> yang membuat hidup kita lebih berwarna.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2008/03/28/uu-ite-antara-homosuperior-dan-homosapien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Saya Ada Disitu</title>
		<link>http://www.gauli.com/2007/10/31/karena-saya-ada-disitu/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=karena-saya-ada-disitu</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2007/10/31/karena-saya-ada-disitu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 17:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2007/10/31/karena-saya-ada-disitu/</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat memasuki tempat parkir yang dikelola oleh sebuah institusi resmi, kita akan mendapatkan sebuah karcis parkir dengan sejumlah peraturan didalamnya. Selain itu kita juga akan menemukan aturan-aturan, seperti keharusan membayar setiap jamnya sekian, sejam berikutnya sekian dan seterusnya. Kian hari  harga perjam untuk parkir semakin mahal. Sementara fasilitas yang diberikan seringkali hanya sekedar parkir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada saat memasuki tempat parkir yang dikelola oleh sebuah institusi resmi, kita akan mendapatkan sebuah karcis parkir dengan sejumlah peraturan didalamnya. Selain itu kita juga akan menemukan aturan-aturan, seperti keharusan membayar setiap jamnya sekian, sejam berikutnya sekian dan seterusnya. Kian hari  harga perjam untuk parkir semakin mahal. Sementara fasilitas yang diberikan seringkali hanya sekedar parkir tanpa jaminan apapun atas nasib kendaraan kita yang tengah diparkir disitu.</p>
<p>Pada saat kita akan memarkirkan kendaraan kita, terkadang kita akan berjumpa kembali dengan petugas parkir yang akan membantu kita untuk memarkirkan kendaraan kita.</p>
<p>Setelah memarkirkan kendaraan, terkadang kita sudah ditunggui didepan pintu oleh petugas tersebut yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah &#8220;beri saya uang&#8221;.</p>
<p>Seakan tak cukup dengan bayaran parkir perjam yang kian meningkat, pada saat kita akan keluar dari area parkir tersebut, kembali sang petugas parkir menghampiri dan berseru, &#8220;terus terus terus&#8221;, sekalipun area sedang kosong sama sekali. Selanjutnya bisa ditebak, kembali penantian agar kita memberi uang menghampiri dari kaca jendela. Dan bila kita menolak memberi, bersiaplah untuk menerima, pelototan, tatapan sinis, dan kadang makian.</p>
<p>Tak hanya itu. Tukang-tukang parkir tak resmi pun berkeliaran dimana-mana dan menentukan tarif seenak jidat mereka. Disatu sisi kadang saya sendiri tak heran. Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu dari mereka. Dan ternyata mereka di wajibkan untuk memberikan setoran ke pihak pemda (saya lupa departemen mana yang mengurus soal parkiran). Waktu itu (tahun 2004) kewajiban setor tukang parkir tak resmi ini kalau tidak salah adalah Rp 35.000/hari. Bayangkan bila mereka gagal mengumpulkan nilai tersebut. Mereka harus mengeruk saku pribadi untuk menutupinya. Dan bila mereka tak sanggup lagi memberi uang, maka lahan tersebut akan diberikan pada kelompok lain. Rp. 35.000 perhari di tambahkan dengan jumlah parkiran di jakarta dapet berapa yaa ?</p>
<p>Hal seperti ini pun terjadi pada para polisi &#8220;preman perempatan&#8221; alias polisi cepek.</p>
<p>Terasa seakan ini adalah bentuk lain dari premanisme yang di resmikan baik secara langsung ataupun tak langsung.</p>
<p>Terpikir kadang kita sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Tapi seperti sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk mengharuskan kita memberi uang. Sementara biasanya kita memberikan uang untuk jasa yang kita minta atau butuhkan atau mungkin diberikan karena memang diperlukan.</p>
<p>Tapi yang terjadi saat ini, &#8220;<strong>anda harus membayar, karena saya ada disini</strong>&#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2007/10/31/karena-saya-ada-disitu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

