M. Prasodjo & Shinta K

Just AnyThing I Want To Write aka Timbunan Segala Hal Yang Terpikir

Archive for the ‘Opini’ Category

Terjebak Dalam Kebohongan Finansial Karena Rasa Sayang

without comments

Dalam sebuah keluarga, permasalahan ini seringkali muncul. Apa yang akan Anda lakukan jika sanak saudara atau sahabat yang memiliki kebiasaan untuk meminta bantuan keuangan atau meminjam uang dan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak kepada Anda? Ternyata Anda tidak sendirian.

Read the rest of this entry »

Written by shinta

August 19th, 2008 at 3:06 pm

Posted in Info, Opini, faq

Make up dan Usia

without comments

Diusia yang ke 36 ini, aku kadang merasa sedikit boleh berbangga. Maklum, saat jalan jalan di mal atau hang out di kampus, belum banyak yang memanggilku ibu. Memang sih, itu terjadi sebelum kehamilanku, enam bulan yang lalu. Selain itu, aku juga nggak merasa kalau usiaku terlalu tua untuk bergaul dengan teman-teman yang berusia 25an. Bahkan kalau melihat gadis-gadis sekarang yang ke mal dengan tank top, sendal tinggi, dandanan lengkap seperti lipstik, maskara dan sebagainya, aku merasa menjadi lebih muda. Itu mengapa urusan anti aging yang katanya begitu penting bagi para wanita, tidak terlalu menarik perhatianku.

Read the rest of this entry »

Written by shinta

July 10th, 2008 at 1:38 pm

Posted in Opini

UU ITE: Antara Homosuperior dan Homosapien

with 2 comments

Indonesia sekarang ini telah resmi miliki UU ITE. Tapi apakah efektif ?

Dunia ini dihuni oleh sekelompok mahluk homosuperior yang menghuni dunia maya, dan sisanya adalah kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata. Diantara keduanya ada masyarakat kaum ampibi yang hidup di kedua dunia.

Kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata, kini berniat menerapkan aturan dunia mereka pada dunia kaum homo superior yang hidup di dunia maya. Tentunya hal ini hanya dimungkinkan bila mereka memiliki pasukan ampibi yang cukup untuk mengawasi segalanya. Tanpa mengenal dunia maya, jelas akan sulit menerapkan apapun dari dunia nyata kedalamnya. Dan diperlukan pendidikan yang cukup sehingga tidak terjadi munculnya kaum “Ampibi Wannabe” yang berkeliaran menuduh ke kiri dan ke kanan tanpa dasar dan pengetahuan yang mungkin bagi kaum homosapien di dunia nyata terdengar hebat tapi merupakan guyonan yang sangat tidak lucu bagi masyarakat dunia maya yang dihuni kaum homosuperior.

Read the rest of this entry »

Written by ara

March 28th, 2008 at 3:05 pm

Karena Saya Ada Disitu

without comments

Pada saat memasuki tempat parkir yang dikelola oleh sebuah institusi resmi, kita akan mendapatkan sebuah karcis parkir dengan sejumlah peraturan didalamnya. Selain itu kita juga akan menemukan aturan-aturan, seperti keharusan membayar setiap jamnya sekian, sejam berikutnya sekian dan seterusnya. Kian hari  harga perjam untuk parkir semakin mahal. Sementara fasilitas yang diberikan seringkali hanya sekedar parkir tanpa jaminan apapun atas nasib kendaraan kita yang tengah diparkir disitu.

Pada saat kita akan memarkirkan kendaraan kita, terkadang kita akan berjumpa kembali dengan petugas parkir yang akan membantu kita untuk memarkirkan kendaraan kita.

Setelah memarkirkan kendaraan, terkadang kita sudah ditunggui didepan pintu oleh petugas tersebut yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah “beri saya uang”.

Seakan tak cukup dengan bayaran parkir perjam yang kian meningkat, pada saat kita akan keluar dari area parkir tersebut, kembali sang petugas parkir menghampiri dan berseru, “terus terus terus”, sekalipun area sedang kosong sama sekali. Selanjutnya bisa ditebak, kembali penantian agar kita memberi uang menghampiri dari kaca jendela. Dan bila kita menolak memberi, bersiaplah untuk menerima, pelototan, tatapan sinis, dan kadang makian.

Tak hanya itu. Tukang-tukang parkir tak resmi pun berkeliaran dimana-mana dan menentukan tarif seenak jidat mereka. Disatu sisi kadang saya sendiri tak heran. Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu dari mereka. Dan ternyata mereka di wajibkan untuk memberikan setoran ke pihak pemda (saya lupa departemen mana yang mengurus soal parkiran). Waktu itu (tahun 2004) kewajiban setor tukang parkir tak resmi ini kalau tidak salah adalah Rp 35.000/hari. Bayangkan bila mereka gagal mengumpulkan nilai tersebut. Mereka harus mengeruk saku pribadi untuk menutupinya. Dan bila mereka tak sanggup lagi memberi uang, maka lahan tersebut akan diberikan pada kelompok lain. Rp. 35.000 perhari di tambahkan dengan jumlah parkiran di jakarta dapet berapa yaa ?

Hal seperti ini pun terjadi pada para polisi “preman perempatan” alias polisi cepek.

Terasa seakan ini adalah bentuk lain dari premanisme yang di resmikan baik secara langsung ataupun tak langsung.

Terpikir kadang kita sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Tapi seperti sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk mengharuskan kita memberi uang. Sementara biasanya kita memberikan uang untuk jasa yang kita minta atau butuhkan atau mungkin diberikan karena memang diperlukan.

Tapi yang terjadi saat ini, “anda harus membayar, karena saya ada disini

Written by ara

October 31st, 2007 at 12:15 am

Cuti Paksa oh Cuti Paksa

without comments

Saya teringat seorang kawan yang pernah mengeluhkan soal cuti paksa ini. Dulu kantornya memberikan “hadiah” bagi yang tidak mengambil cuti selama beberapa tahun (3 atau 5 tahun persisnya saya lupa).  Dan hadirnya kebiasaan cuti paksa ini tepat beberapa hari sebelum masa dimana dia harusnya mendapatkan “hadiah” itu.

Cuti paksa ini dulu kalau tidak salah muncul  banyaknya PN dan PNS yang membolos disekitar libur besar. Yang ketiban sial adalah para pegawai swasta yang tidak pernah mengambil cuti, seperti saya ini.

Mengapa kami tidak dibiarkan mengatur cuti kami sendiri ?

Mengapa tidak memperketat peraturan saja ? Dan bukannya dengan banyaknya yang mungkir juga bisa menjadi petunjuk kalau pekerjaan mereka juga mungkin masih kurang sibuk. Mungkin ini juga saat yang tepat untuk merevisi apa yang mereka kerjakan di hari-hari kerja mereka.

Dari beberapa sisi, cuti paksa ini mengasikkan. Tapi bagi mereka yang tidak biasa mengambil cuti dan memilih untuk bekerja, dan harus di paksa kehilangan reward atas waktu kerja mereka sungguh pengorbanan yang besar bagi para penggemar libur.

Written by ara

October 2nd, 2007 at 12:29 pm

Posted in Opini

Tagged with ,

Seragam Bisa Meningkatkan Kecerdasan

without comments

Begitu mungkin harapan para penguasa sekolah. Maka dari itu seragam menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga harus berbeda setiap hari. Saya sendiri masih belum memiliki kepandaian yang cukup untuk mencerna kegunaan memiliki banyak jenis seragam bagi peningkatan kecerdasan otak. Mungkin hanya mereka yang memutuskan yang mengerti. Barangkali kita bisa melihat seperti apa kecerdasan yang dihasilkan setelah beberapa tahun kedepan.

Bisa jadi kecerdasan itu membuat sebuah pesawat ruang angkasa dengan bahan bakar bawang atau bayam, atau mungkin kemampuan membangun rumah pribadi dengan dinding batu granit bagi para pedagang.

Tapi yang jelas, kemarin seorang ibu bercerita tentang anaknya yang baru masuk SD di sebuah sekolah di Depok. Setelah sejumlah biaya sekolah yang tidak sedikit, dia masih harus menyediakan lagi 6 buah seragam yang sebagian “WAJIB” dibeli dari sekolah, diantaranya baju batik dan atasan seragam pramuka. Selain itu, si ibu masih diharuskan membeli buku-buku pegangan dan buku tugas (atau sejenisnya) yang jumlahnya cukup banyak pula.

Dengan penghasilan yang dimilikinya, akhirnya terpaksa sang anak belum memiliki buku-buku tersebut.

Katanya ada BOS yang akan membantu anak-anak agar bisa bersekolah. Tapi entah kemana larinya dana BOS. Apakah dana BOS itu sedang jalan-jalan bersama para BOS sekolah ???? Hanya Tuhan dan yang pegang duitnya yang tahu.

Tapi mungkin memang seragam bisa meningkatkan kecerdasan dan kekayaan bagi yang bisa memanfaatkannya.

Written by ara

August 6th, 2007 at 3:34 pm

Posted in Opini, Sharing

Urutan Prioritas Kendaraan Di Jalan Raya

without comments

Kemarin kebetulan saya melihat sebuah ambulan yang tengah meraung-raung berhenti tepat ditengah jalan perempatan kuningan jakarta, sementara mobil-mobil didepannya melaju cepat menghalangi ambulan tersebut lewat.

Diseberangnya, nampak seorang anggota polisi tengah tertawa-tawa menggunakan handphonenya.

Mengapa cuek begitu ya ? Ada satu nyawa yang mungkin sedang dipertaruhkan didalamnya. Sementara kalau sirine tersebut adalah sirine mobil pengawal pejabat mungkin dia akan segera bergerak menghalangi jalan, termasuk ambulan tersebut akan diberhentikan. Rasanya sudah banyak yang melihat hal tersebut.

Padahal, menurut Pasal 65 PP 43/1993 kendaraan(2) yang wajib didahulukan adalah (berdasarkan prioritas):

  • pemadam kebakaran
  • ambulans
  • kendaraan utk menolong laka lintas,
  • rombongan kepala negara atau tamu negara
  • rombongan jenazah
  • (konvoi di atas tidak perlu dikawal pertugas yg berwenang/ atau ada isyarat/ tanda2 lain)
  • konvoi/ pawai/ kendaraan orang cacat
  • kendaraan yg penggunaannya utk keperluan khusus/ mengangkut
  • barang khusus

Nah, Kalau Polisi yang “lebih” tahu dan harusnya jadi panutan disiplin peraturan saja cuek apalagi yang lainnya ?

Tapi saya yakin polisi tersebut akan berlari tergopoh-gopoh dan segera menyiapkan pengawalan kalau ternyata didalam ambulan tersebut adalah atasannya atau anaknya.

link terkait : http://www.lantas.metro.polri.go.id/org/index.php?id=2

Written by ara

June 7th, 2007 at 2:16 pm

Posted in Opini, curhat

Pengetahuan Yang Menjadi Candu

with one comment

Kemarin gua ditanya tentang, “bisa bantu tau seseorang ngak ?”. Singkatnya gua jawab, “bisa”.
Tapi tau sadar ngak kalau hal seperti ini bisa menjadi candu ?

Ketika kita tidak mengetahui sama sekali tentang sesuatu, biasanya kita akan cuek saja dengan keadaan. Bahkan mungkin timbul kondisi tidak mau tahu.

Tapi disaat lain, ketika kita mulai mengetahui, biasanya kita menginginkan yang lebih lagi. Misalnya bila kamu mengetahui pasanganmu suka berbohong. Sekali kita mendapatkannya, mungkin kita akan terus melihat dan memantaunya. Sekali kamu bisa dengan mudah tau apa saja isi dompetnya, mungkin dengan gampang kamu bakalan terus ngelirik dan tanpa sadar terus ngelirik.

Ini sih pengalaman pribadi gua sendiri. Gua orang yang selalu pengen tahu segala macam. Gua demen banget yang namanya ngebaca, meneliti, eksperimen. Sampai-sampai dulu gua ngak terlalu peduli berapa duit yang gua keluarin untuk semua “pelajaran” gua.
Bayangin aja. Siapa sih orang yang bikin lab fiber, X.25, SS7 dan lain-lain buat lab pribadi dirumah ? Kira-kira sendiri deh berapa duit yang gua keluarin buat itu. Kebayangkan kemana larinya semua duit gua selama ini. hehe

Tapi benar. Sekali elu ngerasain kenikmatan ketika bisa melakukan sesuatu mungkin sekali elu bakalan kecanduan untuk selalu tau dan tau apapun tanpa sadar berapa banyak waktu dan tenaga telah dihabiskan.

Dan akhirnya tanpa sadar kamupun akan berdiri disamping “pecinta misteri” dan menjadi bagian dari “dewa pengetahuan”.

Pesan moral gua : Pilih pengetahuan yang baik untuk di candui atau berjuang untuk berhenti dititik dimana kamu masih bisa kembali.

Written by ara

April 26th, 2007 at 3:15 pm

Posted in Opini, curhat, unek-unek