Archive for the ‘Opini’ Category
Privacy, dulu dan kini
Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.
Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.
Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.
Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.
Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.
Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.
Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.
GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.
Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.
Jadi….. berhati-hatilah….
Mencoba Zyrex Ellipse EGT270
Mencoba laptop Zyrex Ellipse EGT270 memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Mengapa ? Karena sangat menyebalkan.
Wifi
Sangat LEMAH !!! Sementara laptop 2x lain dengan gagah mendapatkan sinyal full untuk mengakses akses point berjarak sekitar 5 meter dan line of sign, dia hanya menari di 1-2 bar. Memasang wifi usb adalah cara terbaik untuk mendapatkan akses yang lebih stabil.
USB Port
Lemah. Saat memasang 1 buah mouse, semua normal. Ditambahkan 1 buah harddisk semua normal. Begitu ditambahkan 1 buah flashdisk, harddisk removable dan flashdisk tidak terbaca. Keliatannya powernya tidak mencukupi untuk menhidupi semua harddisk. Sementara versi lamanya bisa dengan tenang melayani 3 buah removable disk.
Akhir kata.
Capeee deee make laptop ini. Musti pasang external usb hub dengan power agar mendapatkan high power usb agar bisa menggunakan 2 media. Capek dengan wifi yang putus nyambung. Capek dengan panas yang menggelora ditangan.
Saya pribadi tidak ingin lagi menggunakannya.
IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!
Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya “terlupakan”. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.
Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?
Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?
Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.
Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah “akan kami tindak lanjuti” yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian. Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.
Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?
Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya “barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui”.
Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.
Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian
Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.
Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?
Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.
Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.
Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena. Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.
Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI“
Terjebak Dalam Kebohongan Finansial Karena Rasa Sayang
Dalam sebuah keluarga, permasalahan ini seringkali muncul. Apa yang akan Anda lakukan jika sanak saudara atau sahabat yang memiliki kebiasaan untuk meminta bantuan keuangan atau meminjam uang dan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak kepada Anda? Ternyata Anda tidak sendirian.
Make up dan Usia
Diusia yang ke 36 ini, aku kadang merasa sedikit boleh berbangga. Maklum, saat jalan jalan di mal atau hang out di kampus, belum banyak yang memanggilku ibu. Memang sih, itu terjadi sebelum kehamilanku, enam bulan yang lalu. Selain itu, aku juga nggak merasa kalau usiaku terlalu tua untuk bergaul dengan teman-teman yang berusia 25an. Bahkan kalau melihat gadis-gadis sekarang yang ke mal dengan tank top, sendal tinggi, dandanan lengkap seperti lipstik, maskara dan sebagainya, aku merasa menjadi lebih muda. Itu mengapa urusan anti aging yang katanya begitu penting bagi para wanita, tidak terlalu menarik perhatianku.
UU ITE: Antara Homosuperior dan Homosapien
Indonesia sekarang ini telah resmi miliki UU ITE. Tapi apakah efektif ?
Dunia ini dihuni oleh sekelompok mahluk homosuperior yang menghuni dunia maya, dan sisanya adalah kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata. Diantara keduanya ada masyarakat kaum ampibi yang hidup di kedua dunia.
Kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata, kini berniat menerapkan aturan dunia mereka pada dunia kaum homo superior yang hidup di dunia maya. Tentunya hal ini hanya dimungkinkan bila mereka memiliki pasukan ampibi yang cukup untuk mengawasi segalanya. Tanpa mengenal dunia maya, jelas akan sulit menerapkan apapun dari dunia nyata kedalamnya. Dan diperlukan pendidikan yang cukup sehingga tidak terjadi munculnya kaum “Ampibi Wannabe” yang berkeliaran menuduh ke kiri dan ke kanan tanpa dasar dan pengetahuan yang mungkin bagi kaum homosapien di dunia nyata terdengar hebat tapi merupakan guyonan yang sangat tidak lucu bagi masyarakat dunia maya yang dihuni kaum homosuperior.
Karena Saya Ada Disitu
Pada saat memasuki tempat parkir yang dikelola oleh sebuah institusi resmi, kita akan mendapatkan sebuah karcis parkir dengan sejumlah peraturan didalamnya. Selain itu kita juga akan menemukan aturan-aturan, seperti keharusan membayar setiap jamnya sekian, sejam berikutnya sekian dan seterusnya. Kian hari harga perjam untuk parkir semakin mahal. Sementara fasilitas yang diberikan seringkali hanya sekedar parkir tanpa jaminan apapun atas nasib kendaraan kita yang tengah diparkir disitu.
Pada saat kita akan memarkirkan kendaraan kita, terkadang kita akan berjumpa kembali dengan petugas parkir yang akan membantu kita untuk memarkirkan kendaraan kita.
Setelah memarkirkan kendaraan, terkadang kita sudah ditunggui didepan pintu oleh petugas tersebut yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah “beri saya uang”.
Seakan tak cukup dengan bayaran parkir perjam yang kian meningkat, pada saat kita akan keluar dari area parkir tersebut, kembali sang petugas parkir menghampiri dan berseru, “terus terus terus”, sekalipun area sedang kosong sama sekali. Selanjutnya bisa ditebak, kembali penantian agar kita memberi uang menghampiri dari kaca jendela. Dan bila kita menolak memberi, bersiaplah untuk menerima, pelototan, tatapan sinis, dan kadang makian.
Tak hanya itu. Tukang-tukang parkir tak resmi pun berkeliaran dimana-mana dan menentukan tarif seenak jidat mereka. Disatu sisi kadang saya sendiri tak heran. Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu dari mereka. Dan ternyata mereka di wajibkan untuk memberikan setoran ke pihak pemda (saya lupa departemen mana yang mengurus soal parkiran). Waktu itu (tahun 2004) kewajiban setor tukang parkir tak resmi ini kalau tidak salah adalah Rp 35.000/hari. Bayangkan bila mereka gagal mengumpulkan nilai tersebut. Mereka harus mengeruk saku pribadi untuk menutupinya. Dan bila mereka tak sanggup lagi memberi uang, maka lahan tersebut akan diberikan pada kelompok lain. Rp. 35.000 perhari di tambahkan dengan jumlah parkiran di jakarta dapet berapa yaa ?
Hal seperti ini pun terjadi pada para polisi “preman perempatan” alias polisi cepek.
Terasa seakan ini adalah bentuk lain dari premanisme yang di resmikan baik secara langsung ataupun tak langsung.
Terpikir kadang kita sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Tapi seperti sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk mengharuskan kita memberi uang. Sementara biasanya kita memberikan uang untuk jasa yang kita minta atau butuhkan atau mungkin diberikan karena memang diperlukan.
Tapi yang terjadi saat ini, “anda harus membayar, karena saya ada disini“
Cuti Paksa oh Cuti Paksa
Saya teringat seorang kawan yang pernah mengeluhkan soal cuti paksa ini. Dulu kantornya memberikan “hadiah” bagi yang tidak mengambil cuti selama beberapa tahun (3 atau 5 tahun persisnya saya lupa). Dan hadirnya kebiasaan cuti paksa ini tepat beberapa hari sebelum masa dimana dia harusnya mendapatkan “hadiah” itu.
Cuti paksa ini dulu kalau tidak salah muncul banyaknya PN dan PNS yang membolos disekitar libur besar. Yang ketiban sial adalah para pegawai swasta yang tidak pernah mengambil cuti, seperti saya ini.
Mengapa kami tidak dibiarkan mengatur cuti kami sendiri ?
Mengapa tidak memperketat peraturan saja ? Dan bukannya dengan banyaknya yang mungkir juga bisa menjadi petunjuk kalau pekerjaan mereka juga mungkin masih kurang sibuk. Mungkin ini juga saat yang tepat untuk merevisi apa yang mereka kerjakan di hari-hari kerja mereka.
Dari beberapa sisi, cuti paksa ini mengasikkan. Tapi bagi mereka yang tidak biasa mengambil cuti dan memilih untuk bekerja, dan harus di paksa kehilangan reward atas waktu kerja mereka sungguh pengorbanan yang besar bagi para penggemar libur.
Seragam Bisa Meningkatkan Kecerdasan
Begitu mungkin harapan para penguasa sekolah. Maka dari itu seragam menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga harus berbeda setiap hari. Saya sendiri masih belum memiliki kepandaian yang cukup untuk mencerna kegunaan memiliki banyak jenis seragam bagi peningkatan kecerdasan otak. Mungkin hanya mereka yang memutuskan yang mengerti. Barangkali kita bisa melihat seperti apa kecerdasan yang dihasilkan setelah beberapa tahun kedepan.
Bisa jadi kecerdasan itu membuat sebuah pesawat ruang angkasa dengan bahan bakar bawang atau bayam, atau mungkin kemampuan membangun rumah pribadi dengan dinding batu granit bagi para pedagang.
Tapi yang jelas, kemarin seorang ibu bercerita tentang anaknya yang baru masuk SD di sebuah sekolah di Depok. Setelah sejumlah biaya sekolah yang tidak sedikit, dia masih harus menyediakan lagi 6 buah seragam yang sebagian “WAJIB” dibeli dari sekolah, diantaranya baju batik dan atasan seragam pramuka. Selain itu, si ibu masih diharuskan membeli buku-buku pegangan dan buku tugas (atau sejenisnya) yang jumlahnya cukup banyak pula.
Dengan penghasilan yang dimilikinya, akhirnya terpaksa sang anak belum memiliki buku-buku tersebut.
Katanya ada BOS yang akan membantu anak-anak agar bisa bersekolah. Tapi entah kemana larinya dana BOS. Apakah dana BOS itu sedang jalan-jalan bersama para BOS sekolah ???? Hanya Tuhan dan yang pegang duitnya yang tahu.
Tapi mungkin memang seragam bisa meningkatkan kecerdasan dan kekayaan bagi yang bisa memanfaatkannya.