<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gauli(dot)Com &#187; Gauli</title>
	<atom:link href="http://www.gauli.com/category/gauli/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gauli.com</link>
	<description>Timbunan Segala Hal Yang Terpikir</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 08:41:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>inc.jpg</title>
		<link>http://www.gauli.com/2012/02/08/inc-jpg/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=inc-jpg</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2012/02/08/inc-jpg/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 08:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2012/02/08/inc-jpg/</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2012/02/08/inc-jpg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>logorobek.jpg</title>
		<link>http://www.gauli.com/2012/02/08/logorobek-jpg/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=logorobek-jpg</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2012/02/08/logorobek-jpg/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 08:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2012/02/08/logorobek-jpg/</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2012/02/08/logorobek-jpg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun ke-3 Indonesia Nunchaku Club</title>
		<link>http://www.gauli.com/2011/12/20/selamat-ulang-tahun-ke-3-indonesia-nunchaku-club/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=selamat-ulang-tahun-ke-3-indonesia-nunchaku-club</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2011/12/20/selamat-ulang-tahun-ke-3-indonesia-nunchaku-club/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 11:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Martial Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[inc]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia nunchaku club]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[20 Agustus 3 tahun lalu, sekelompok orang berkumpul untuk bersama2x menikmati kesenangan memutar-mutar nunchaku. Di Foto atas, Sugi Hartono, Alexander Liman, Setra Bwane, Serunai, Dodit Setiyohadi, Rio Garuda Yaksa, dan Saya yang ganteng. Kurang om Raka Prasasti (yang ngak kebagian tiket kereta buat hadir) dan Inderamaia (yang kebagian motret foto ini). Hari ini tak disangka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.gauli.com/wp-content/uploads/2011/12/inc.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-217" title="inc" src="http://www.gauli.com/wp-content/uploads/2011/12/inc-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>20 Agustus 3 tahun lalu, sekelompok orang berkumpul untuk bersama2x menikmati kesenangan memutar-mutar nunchaku.</p>
<p>Di Foto atas, Sugi Hartono, Alexander Liman, Setra Bwane, Serunai, Dodit Setiyohadi, Rio Garuda Yaksa, dan Saya yang ganteng. Kurang om Raka Prasasti (yang ngak kebagian tiket kereta buat hadir) dan Inderamaia (yang kebagian motret foto ini).</p>
<p>Hari ini tak disangka tak dinyana, INC sudah semakin besar dan makin besar.</p>
<p>Selamat ulang tahun INC</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2011/12/20/selamat-ulang-tahun-ke-3-indonesia-nunchaku-club/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu kesalahan yang merusak persiapan berbulan-bulan</title>
		<link>http://www.gauli.com/2011/08/30/satu-kesalahan-yang-merusak-persiapan-berbulan-bulan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=satu-kesalahan-yang-merusak-persiapan-berbulan-bulan</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2011/08/30/satu-kesalahan-yang-merusak-persiapan-berbulan-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 17:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Gauli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/2011/08/30/satu-kesalahan-yang-merusak-persiapan-berbulan-bulan/</guid>
		<description><![CDATA[Begitulah&#8230; Persiapan untuk menempuh perjalanan mudik dengan bersepeda tahun ini gagal total karena begitu perjalanan dimulai terjadi kerusakan pada RD. Semua persiapan fisik dan mental telah dilakukan. Pengecekan fisik sepeda juga sudah dilakukan. Satu hal yang terlewatkan adalah usia pakai dari RD bawaan si merseli, seli 20&#8243; yang sedianya akan ku pakai dalam perjalanan ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitulah&#8230;</p>
<p>Persiapan untuk menempuh perjalanan mudik dengan bersepeda tahun ini gagal total karena begitu perjalanan dimulai terjadi kerusakan pada RD.</p>
<p>Semua persiapan fisik dan mental telah dilakukan. Pengecekan fisik sepeda juga sudah dilakukan. Satu hal yang terlewatkan adalah usia pakai dari RD bawaan si merseli, seli 20&#8243; yang sedianya akan ku pakai dalam perjalanan ini.  </p>
<p>Usianya sudah hampir 2 tahun, sementara perjalanan hariannya berkisar sekitar 50km perhari, kadang kalau iseng bisa 100-an km. Jalan hidupnya pun tidak selalu mulus. Kadang berhadapan dengan makadam, jalan2x tanah, naik turun bukit, dll, sehingga penunggangnya mendapat julukan ropli alias rombongan penyiksa seli. Juga perjalanan tahun lalu menempuh sekitar 480 km dan sebelum ini sekitart 380km tentunya memakan usia pakai RD tersebut.</p>
<p>Jadilah setelah meluncur sejauh 135.6 km saya memutuskan membatalkan perjalanan bekasi &#8211; yogyakarta berdua bersama merseli tahun ini karena per RD yang ngak bisa diajak kompromi.</p>
<p>Nyari per RD neos 2 kayaknya susah, jadi diputuskan sepertinya harus ganti RD.</p>
<p>Demikian curhatan ini<br />
Hick</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2011/08/30/satu-kesalahan-yang-merusak-persiapan-berbulan-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Pemberitaan dan Hak Jawab</title>
		<link>http://www.gauli.com/2011/08/22/salah-pemberitaan-dan-hak-jawab/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=salah-pemberitaan-dan-hak-jawab</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2011/08/22/salah-pemberitaan-dan-hak-jawab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 15:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Kesalahan komunikasi dalam sebuah organisasi, sekecil apapun, ternyata bisa berakibat sangat fatal. Kadang bukan hanya dalam lingkup keorganusasian, ternyata pada akhirnya bisa merembet ke pribadi masing masing pengurus dan anggota. Apalagi jika ditambah nafsu &#8220;mencari siapa yang salah-dan bukan saya&#8221; berujung debat kusir tanpa akhir. Itulah cerita yang saya dengar belakangan ini.  Sebagai seorang wartawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesalahan komunikasi dalam sebuah organisasi, sekecil apapun, ternyata bisa berakibat sangat fatal. Kadang bukan hanya dalam lingkup keorganusasian, ternyata pada akhirnya bisa merembet ke pribadi masing masing pengurus dan anggota. Apalagi jika ditambah nafsu &#8220;mencari siapa yang salah-dan bukan saya&#8221; berujung debat kusir tanpa akhir. Itulah cerita yang saya dengar belakangan ini.</p>
<p><span id="more-204"></span> Sebagai seorang wartawan (walau baru jadi wartawan 1994), media relation and communications consultant dan punya sedikit pengalaman di bidang EO, saya melihat permasalahan yang terjadi sangat sederhana. Misskomunikasi, lack of coordination, rasa nyaman dan kebiasaan wartawan terhadap orang tertentu di organisasi tersebut sehingga saat dia butuh quotation (yang biasanya penting untuk berita tapi tidak disediakan oleh press release standard) akhirnya dia menganggap contact yang selama ini digunakan masih berlaku, adalah sumber permasalahannya (dugaan sementara karena tidak mau menentukan siapa yang salah).</p>
<p>Walau bagaimanapun, kesalahan pemberitaan oleh media sepenuhnya adalah tanggung jawab PR terutama yang berhubungan dengan wartawan si penulis berita. Bahwa wartawan merubah release, atau wartawan tidak menyampaikan informasi dengan benar, tidak dapat diterima sebagai alasan pembenaran seorang PR. Selalu muncul pertanyaan, kenapa wartwana bisa salah tulis, dan salah mengerti release yang PR keluarkan? Apakah releasenya tidak memenui kebutuhan wartawan? kurang informatif? tidak dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain kecuali si PR? atau sang PR tidak dapat dihubungi saat sang wartawan ada pertanyaan?</p>
<p>Penyelesaiannya pun mudah, tergantung apa yang diinginkan organisasi tersebut.</p>
<p>Cara pertama, meminta sang wartawan untuk mengkoreksi beritanya (tanpa melibatkan institusi si wartawan). Tentu saja orang yang mengkontak si wartawanlah yang harus melakukan aksi ini dengan pertimbangan, menjaga nama baik organisasi dan menghindari kesan buruk (tidak terorganisir dan ada gonjang ganjing di organisasi tersebut) di mata orang luar, serta alasan kedekatan emosional antara si pemberi rilis dengan wartawan.</p>
<p>Sedangkan cara kedua adalah hak jawab. Hal ini akan melibatkan isntitusi yang dapat mengakibatkan minimal teguran si kantor pemberitaan terhadap sang wartawan. Jika si wartawan merasa &#8220;sakit hati&#8221; berakibat buruknya hubungan dengan si wartawan (baik organisasi maupun si pemberi rilis) dan akan sulit mendapat pemberitaan dikemudian hari.</p>
<p>Cara ketiga: Lupakan saja toh nanti orang lupa. Pertimbangannya adalah teori media relation dimana pemberitaan yang salah tidak akan pernah dapat diralat 100%</p>
<p>Cara pertama dan terakhir mungkin tidak terlalu sulit dimengerti. Sedangkan cara kedua tidak semua orang familiar dengan istilah hak jawab ini. Hak jawab (droit de re·ponse) salah satu elemen penting dlm perkembngan pers di Indonesia. Sebenarnya hak jawab sudah lama dikenal di Indonesia. Pada jaman kolonial, hak jawaab diatur dlm Reglement op de Drukwerken(staatsblad 186-74). Sedangkan hak jawab yang kita kenal dan gunakan sekarang ini, diatur dalam Kode Etik Jurnalistik wartawan Indonesia dan UU No. 40 thn 1999 tentang Pers. Diadaptasi dari &#8220;Cannon of Journalisme&#8221; atau kode etik wartawan Amerika Serikat. Diperkenalkan 1947, setahun setelah kelahiran PWI.</p>
<p>Secara umum, dapat dikatakan bahwa Hak jawab Adalah Hak warga yang merasa dirugikan karena kekeliruan pemberitaan Pers, hanya diberikan kepada Pers yang mempublikasikan dan tidak kepada pers yang lain serta wajib diberikan secara gratis. Sebenarnya Hak Jawab merupakan solusi yang terlambat karena diberikan setelah berita ditulis atau istilah kerennya &#8220;Damage has been done&#8221;. Atau seperti yang saya tulis diatas, kesalahan pemberitaan tidak dapat diralat. Tentu mencegah itu lebih baik daripada memperbaiki. Itu sebabnya sebuah rilis harus diperiksa berulangkali sampai benar benar akurat, kontak person dan spoke person harus mudah dihubungi media dan ditetapkan satu orang saja serta menguasai permasalahan (media relation tidak harus menjadi spoke person lho, tapi jika sudah ditunjuk spoke person, sebaiknya media relation tidak sok tau dan berbicara. Segala bentuk pertanyaan harus direver ke spoke person).<br />
Namun memperbaiki masih lebih baik daripada terlambat atau tidak melakukan apa-apa sama sekali.</p>
<p>Secara khusus, hak jawab merupakan Hak koreksi yang merupakan hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain (Pasal 11 dan 12 UU UU No 40 Thn 1999 dan Penjelasan Pasal 11 Kode Etik Jurnalistik) dan Pers WAJIB melayani Hak Jawab (Pasal 5 Ayat (2) UU No 40 Tahun 1999).</p>
<p>Urutan langkah yang harus dilakukan sebelum menggunakan hak jawab adalah Klarifikasi, Media visit dan Wawancara ulang. Selanjutnya apabila tidak berhasil, hendaknya menempuh langkah Mediasi melalui Dewan Pers dan menurut Pasal 10 Kode Etik Jurnalistik “Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa”.</p>
<p>Sedangkan langkah yang sama sekali tidak boleh dilakukan adalah Menyuap, menyampaikan gugatan pengadilan dengan menggunakan pasal pencemaran nama baik/perbuatan tidak menyenangkan dan memuat iklan/advertorial yang menyalahi kode etik periklanan.<br />
Kenapa dilakukan Mediasi melalui Dewan Pers bukan ke Pengadilan Pidana?<br />
Kinerja jurnalistik adalah soal akurat atau tidak akurat, bukan soal benar atau salah, sepanjang dilakukan dengan prosedur yang benar. Bisa dikatakan tulisan wartawan bisa juga salah sehingga karenanya ada mekanisme pelaporan ke Dewan Pers. Dewan Pers lah yang menjadi “hakim” buat wartawan. Wartawan selayaknya dihukum bukan karena isi berita tapi karena salah dalam menjalankan prosedur jurnalistik. Pers yang baik akan tunduk pada keputusan dewan pers karena hukuman terberat bagi insan pers adalah dikucilkan dari komunitas wartawan.</p>
<p>Dewan Pers memberlakukan pedoman hak jawab, berdasarkan rapat pleno dewan pers tanggal 29 Oktober 2008 yang diikuti komunitas pers dan perwakilan masyarakat. Ketua Dewan Pers mengakui sulitnya merumuskan Pedoman Hak Jawab karena persoalannya kompleks. Padahal, Hak Jawab ini penting sebagai ukuran salah satu cara mengekspresikan kebebasan pers.<br />
Inilah pedoman hak jawab secara lengkap:</p>
<p>Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud dari kedaulatan rakyat berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia. emerdekaan pers perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan asyarakat, bangsa, dan negara.<br />
Pelaksanaan kemerdekaan pers dapat diwujudkan oleh pers yang merdeka, profesional, patuh pada asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta Kode Etik Jurnalistik.<br />
Dalam menjalankan peran dan fungsinya, pers wajib memberi akses yangproporsional kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi memelihara kemer-dekaan pers dan menghormati Hak Jawab yang dimiliki masyarakat. Untuk<br />
itu, Pedoman Hak Jawab ini disusun:<br />
1. Hak Jawab adalah hak seseorang, sekelompok orang, organisasi atau badan hukum untuk menanggapi dan menyanggah pemberitaan atau karya jurnalistik yang melanggar Kode Etik Jurnalistik, terutama kekeliruan dan ketidakakuratan fakta, yang merugikan nama baiknya kepada pers yang memublikasikan.<br />
2. Hak Jawab berasaskan keadilan, kepentingan umum, proporsionalitas, dan profesionalitas.<br />
3. Pers wajib melayani setiap Hak Jawab.<br />
4. Fungsi Hak Jawab adalah:<br />
a. Memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat;<br />
b. Menghargai martabat dan kehormatan orang yang merasa dirugikan akibat pemberitaan pers;<br />
c. Mencegah atau mengurangi munculnya kerugian yang lebih besar bagi masyarakat dan pers;<br />
d. Bentuk pengawasan masyarakat terhadap pers.<br />
5. Tujuan Hak Jawab untuk:<br />
a. Memenuhi pemberitaaan atau karya jurnalistik yang adil dan berimbang;<br />
b. Melaksanakan tanggung jawab pers kepada masyarakat;<br />
c. Menyelesaikan sengketa pemberitaan pers;<br />
d. Mewujudkan iktikad baik pers.<br />
6. Hak Jawab berisi sanggahan dan tanggapan dari pihak yang dirugikan.<br />
7. Hak Jawab diajukan langsung kepada pers yang bersangkutan, dengan tembusan ke Dewan Pers.<br />
8. Dalam hal kelompok orang, organisasi atau badan hukum, Hak Jawab diajukan oleh pihak yang berwenang dan atau sesuai statuta organisasi, atau badan hukum bersangkutan.<br />
9. Pengajuan Hak Jawab dilakukan secara tertulis (termasuk digital) dan ditujukan kepada penanggung jawab pers bersangkutan atau menyampaikan langsung kepada redaksi dengan menunjukkan identitas diri.<br />
10. Pihak yang mengajukan Hak Jawab wajib memberitahukan informasi yang dianggap merugikan dirinya baik bagian per bagian atau secara keseluruhan dengan data pendukung.<br />
11. Pelayanan Hak Jawab tidak dikenakan biaya.<br />
12. Pers dapat menolak isi Hak Jawab jika:<br />
a. Panjang/durasi/ jumlah karakter materi Hak Jawab melebihi pemberitaan atau karya jurnalistik yang dipersoalkan;<br />
b. Memuat fakta yang tidak terkait dengan pemberitaan atau karya jurnalistik yang dipersoalkan;<br />
c. Pemuatannya dapat menimbulkan pelanggaran hukum;<br />
d. Bertentangan dengan kepentingan pihak ketiga yang harus dilindungi secara hukum.<br />
13. Hak Jawab dilakukan secara proporsional:<br />
a. Hak Jawab atas pemberitaan atau karya jurnalistik yang keliru dan tidak akurat dilakukan baik pada bagian per bagian atau secara keseluruhan dari informasi yang dipermasalahkan;<br />
b. Hak Jawab dilayani pada tempat atau program yang sama dengan pemberitaan atau karya jurnalistik yang dipermasalahkan, kecuali disepakati lain oleh para pihak;<br />
c. Hak Jawab dengan persetujuan para pihak dapat dilayani dalam format ralat, wawancara, profil, features, liputan, talkshow, pesan berjalan, komentar media siber, atau format lain tetapi bukan dalam format iklan;<br />
d. Pelaksanaan Hak Jawab harus dilakukan dalam waktu yang secepatnya, atau pada kesempatan pertama sesuai dengan sifat pers yang bersangkutan;<br />
1) Untuk pers cetak wajib memuat Hak Jawab pada edisi berikutnya atau selambat-lambatnya pada dua edisi sejak Hak Jawab dimaksud diterima redaksi.<br />
2) Untuk pers televisi dan radio wajib memuat Hak Jawab pada program berikutnya.<br />
e. Pemuatan Hak Jawab dilakukan satu kali untuk setiap pemberitaaan;<br />
f. Dalam hal terdapat kekeliruan dan ketidakakuratan fakta yang bersifat menghakimi, fitnah dan atau bohong, pers wajib meminta maaf.<br />
14. Pers berhak menyunting Hak Jawab sesuai dengan prinsip-prinsip pemberitaan atau karya jurnalistik, namun tidak boleh mengubah substansi atau makna Hak Jawab yang diajukan.<br />
15. Tanggung jawab terhadap isi Hak Jawab ada pada penanggung jawab pers yang memublikasikannya.<br />
16. Hak Jawab tidak berlaku lagi jika setelah 2 (dua) bulan sejak berita atau karya jurnalistik dipublikasikan pihak yang dirugikan tidak mengajukan Hak Jawab, kecuali atas kesepakatan para pihak.<br />
17. Sengketa mengenai pelaksanaan Hak Jawab diselesaikan oleh Dewan Pers. Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers yang tidak melayani Hak Jawab selain melanggar Kode Etik Jurnalistik juga dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp.500.000.000, 00 (Lima ratus juta rupiah).</p>
<p>(dari berbagai sumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2011/08/22/salah-pemberitaan-dan-hak-jawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Kertas Putih dan Anakku</title>
		<link>http://www.gauli.com/2011/07/28/teori-kertas-putih-dan-anakku/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=teori-kertas-putih-dan-anakku</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2011/07/28/teori-kertas-putih-dan-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 13:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles, secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau berwarna lain, adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Bagaimana dia jadinya kelak, tergantung bagaimana orang tuanya menorehkan pena kehidupan, bagaimana lingkungan dan dunia memberikan warnanya. Teori pelaziman klasik, teori pelaziman operan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>T</strong>eori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles, secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau berwarna lain, adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Bagaimana dia jadinya kelak, tergantung bagaimana orang tuanya menorehkan pena kehidupan, bagaimana lingkungan dan dunia memberikan warnanya.</p>
<p><span id="more-176"></span>Teori pelaziman klasik, teori pelaziman operan dan social learning theory juga merupakan produk dari aliran ini.</p>
<p>Lalu aliran ini disempurnakan oleh aliran baru dalam dunia psikologi yaitu  humanistik. Secara garis besar bisa dikatakan bahwa psikologi humanistik melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisis dan behaviorisme dengan memasukan aspek positif yang menentukan seperti cinta , kreativitas , nilai makna dan pertumbuhan pribadi. Psikologi Humanistik banyak mengambil penganut Psikoanalisis Neofreudian. Asumsi dasar aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan</p>
<p>Selanjutnya konsep dari tokoh aliran psikologi humanistik, yaitu Abraham Maslow, menyatakan “studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya, mutlak menjadi fondasi bagi sebuah ilmu psokologis yang lebih semesta( Frank Goble,1993,34 )&#8221;. Aliran ini mengatakan bahwa ia lebih melihat pada yang mungkin dan harus ada, daripada metode statistik yang serba rata rata. Dikatakan bahwa Psikologis humanistik tidak menekankan penelitian eksperimen pada &#8220;makluk hidup&#8221; tetapi pada kodrat manusia beserta sifat-sifat manusia yang positip.Dengan demikian pendekatan yang dilakukan bersifat multi displiner lebih luas lagi, da bisa dikatakan lebih menyeluruh menyentuh segala aspek permasalahan umat manusia.  Dalam teorinya  Maslow mengatakan tentang &#8220;Hirarkhi Kebutuhan Manusia&#8221;. Teori ini menyatakan bahwa manusia akan dapat mengaktualisasikan diri dan percaya diri, manakala kebutuhan akan makanan, kesehatan, rasa aman dan diterima dalam suatu kelompok terpenuhi.</p>
<p>Adapun bagan <strong><em>Hirarkhi kebutuhan Abraham Maslow </em></strong>tersebut adalah:</p>
<p align="center">Kebutuhan untuk aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan untuk dihargai: pemberian penghargaan atau reward, mengakui hasil karya individu</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan akan rasa aman dan tentram: lingkungan yang bebas dari segala bentuk ancaman</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">V</p>
<p align="center">Kebutuhan fisiologis dasar: pekerjaan, pendidikan, makanan, pakaian, perumahan</p>
<p> Sebagai seorang ibu yang baru mulai “menggambar” kadang saya berharap ada buku manual pasti yang memberitahu bagaimana caranya menggambar, ukuran dan takaran serta alat yang digunakan. Sayang sekolah dan buku semacam itu tidak ada karena semua harus kita lakukan dan pelajari sendiri. Meskipun banyak buku dan ahli psikologi anak, namun bagi saya pendapat dan teori tersebut hanya sebagai contoh dasar. Sisanya memang harus <em>learning by doing, TRY AND ERROR </em>dengan harapan melakukan kesalahan sesedikit mungkin dengan belajar, membuka panca indera terhadap lingkungan, alam dan pengetahuan.</p>
<p>Tidak mudah memang mengajarkan kehidupan, keimanan, ilmu, disiplin, kasih sayang,  selalu menepati janji, teposliro, sabar dan terus berusaha pantang menyerah serta banyak hal yang akan menjadi bekal hidupnya nanti, dengan hal sederhana. Apalagi membesarkan anak bukan hanya memberikan pelajaran tentang ini itu, atau membuat aturan, atau memberi tahu dan memberikan “textbook”. Saya percaya bahwa anak belajar kehidupan melalui seluruh indranya, pikirannya (otak), emosinya dan hatinya. Mereka tidak hanya mendengar apa yang kita katakan tapi juga melihat dan meniru apa yang kita contohkan. Yang pasti, semua itu tidak mudah, tapi saya percaya bahwa saya bisa. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik, mencukupi kebutuhannya, buka mata, telinga dan hati, bersabar berusaha sebaik mungkin, dan  berdoa. Saya juga berusaha untuk konsisten antara ajaran, dan perbuatan saya sendiri sebagai contoh.  Sisanya saya serahkan pada kehendakNya, alam dan dirinya sendiri.</p>
<p>TIDAK MUDAH MEMANG, TAPI SAYA TAHU SAYA BISA</p>
<p>Shinta K, 23 Juli 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan kritik, Ia belajar untuk menyalahkan.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa benci, Ia belajar bagaimana berkelahi.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan ejekan, Ia belajar menjadi pemalu.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, Ia belajar merasa bersalah.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan toleransi, Ia belajar menjadi sabar.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan semangat, Ia belajar kepercayaan diri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan pujian, Ia belajar untuk menghargai.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa adil, Ia belajar tentang keadilan.</p>
<p>Bila seorang hidup dengan rasa aman, Ia belajar memiliki iman.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan persetujuan, Ia belajar menyukai dirinya sendiri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, Ia belajar mencari cinta dalam dunia.</p>
<p>-</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan kritik, Ia belajar untuk menyalahkan.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa benci, Ia belajar bagaimana berkelahi.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan ejekan, Ia belajar menjadi pemalu.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, Ia belajar merasa bersalah.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan toleransi, Ia belajar menjadi sabar.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan semangat, Ia belajar kepercayaan diri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan pujian, Ia belajar untuk menghargai.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan rasa adil, Ia belajar tentang keadilan.</p>
<p>Bila seorang hidup dengan rasa aman, Ia belajar memiliki iman.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan persetujuan, Ia belajar menyukai dirinya sendiri.</p>
<p>Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, Ia belajar mencari cinta dalam dunia.</p>
<p>- Dorothy Law Nolte -</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anak kecil yang tumbuh dengan kebiasaan</p>
<p>ditakut-takuti bayangan atau suara-suara hantu,</p>
<p>akan tumbuh menjadi remaja</p>
<p>yang takut terhadap yang tidak diketahuinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sehingga mereka menjadi orang dewasa</p>
<p>yang takut terhadap ketidak-pastian masa depan;</p>
<p>karena, yang akan terjadi &#8211; terbayang</p>
<p>sama menakutkannya dengan ancaman momok</p>
<p>di masa kecil mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebaiknya kita tidak menumbuhkan</p>
<p>anak-anak yang penakut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mario Teguh</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung . yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.</p>
<p>“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”</p>
<p>Perahu Kertas,</p>
<p>Kumpulan Sajak, Sapardi Djoko Damono</p>
<p>1982.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2011/07/28/teori-kertas-putih-dan-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warna Hitam</title>
		<link>http://www.gauli.com/2010/12/02/warna-hitam/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=warna-hitam</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2010/12/02/warna-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 13:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Saat seseorang menuangkan dan meratakan cat hitam kental dan pekat pada selembar kertas putih, maka tak ada lagi putih. Pun Sulit kita mengubahnya menjadi warna kuning, marah, biru atau yang lain.Pun sulit menorehkan warna warna itu diatasnya.Semua terlibas oleh warna hitam. Jika kita mampu memberikan cukup banyak warna, yang keluar adalah abu abu atau buram, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat seseorang menuangkan dan meratakan cat hitam kental dan pekat pada selembar kertas putih, maka tak ada lagi putih.</p>
<p>Pun Sulit kita mengubahnya menjadi warna kuning, marah, biru atau yang lain.Pun sulit menorehkan warna warna itu diatasnya.Semua terlibas oleh warna hitam.</p>
<p>Jika kita mampu memberikan cukup banyak warna, yang keluar adalah abu abu atau buram, orang jawa menyebutnya buthek.</p>
<p>Dan warna hitam, ternyata lebih sulit mengering di banding warna lain</p>
<p>Jika kita ingin menutupi warna hitam atau menggambar diatas warna kertas ini, perlu kerja keras dan usaha lebih. Harus menunggu warna hitam benar benar kering, dan warna baru yang kita inginkan pun harus cukup kental dan banyak agar dapat mewujudkan warna aslinya. Jika tidak, bayang bayang hitam akan selalu mengotori warna baru.</p>
<p><em>Dan tahukah kau, kertas itu adalah gambaran jiwa dan hatimu dan warna hitam adalah luka dan duka yang tertoreh diatasnya</em></p>
<p>Saat luka dan duka tertoreh begitu hitam, kental dan pekat, dia tidak akan hilang dan sulit mengering.</p>
<p>Untuk menorehkan warna kegembiraan dan warna kehidupan yang lain, seindah, semurni dan seharum apapun tidak mudah menutupi warna hitam. Yang ada hanya sedikit warna buthek yang mengurangi kepekatannya. Atau paling tidak abu abu. Apapun usaha kita menghapus dan melakukan hal lain terhadap jiwa dan hati yang hitam maka akan selalu terlihat hitam atau buthek. Tidak pernah putih dan benar. Bayang bayang hitam akan selalu ada meski warna diatasnya sangat berbeda.</p>
<p>Jika kita ingin menutupi jiwa dan hati yang telah menjadi hitam atau menggambar diatas jiwa dan hati ini, perlu kerja keras dan usaha lebih. Harus menunggu sang hitam benar benar kering, dan warna kehidupan baru yang kita inginkan pun harus cukup kental dan banyak agar dapat mewujudkan warna aslinya. Sayangnya, sang hitam sulit sekali mengering dan bahkan kadang tidak mau mengering karena sang jiwa dan hati tidak pernah merelakannya. Belum lagi segala prasangka buruk bagai air yang selalu membasahi sang hitam. Dan sekali lagi sayang, waktu manusia didunia ini kadang tidak cukup panjang untuk menunggu sang hitam mengering atau kesabaran sering lebih senang berwisata bersama pelangi.</p>
<p>SKS, Jakarta, 02122010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2010/12/02/warna-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersepeda Lagi</title>
		<link>http://www.gauli.com/2010/03/13/bersepeda-lagi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bersepeda-lagi</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2010/03/13/bersepeda-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 13:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bertahun-tahun saya tidak bersepeda. Dan entah bagaimana akhir tahun lalu terpikir ingin menaiki sepeda lagi untuk sehari-hari seperti dahulu kala yang mana pemikiran tersebut muncul dari pembicaraan tentang rencana pindah kantor. Akhirnya dilakukanlah survey kian kemari terhadap jenis-jenis sepeda yang ada saat ini. Dari mulai survey melalui web site hingga bertanya pada teman dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah bertahun-tahun saya tidak bersepeda. Dan entah bagaimana akhir tahun lalu terpikir ingin menaiki sepeda lagi untuk sehari-hari seperti dahulu kala yang mana pemikiran tersebut muncul dari pembicaraan tentang rencana pindah kantor.</p>
<p>Akhirnya dilakukanlah survey kian kemari terhadap jenis-jenis sepeda yang ada saat ini. Dari mulai survey melalui web site hingga bertanya pada teman dan saudara yang menjadi penunggang sepeda.</p>
<p>Keinginan awal adalah memiliki sepeda jenis MTB. Tapi untuk pemakaian harian mungkin akan cukup repot membawanya bila mendadak ada keperluan.</p>
<p>Akhirnya setelah ngobrol kian kemari dengan teman sekantor, om Wasis, pilihan jatuh pada Seli.</p>
<p>Jenis sepeda lipat ini cukup praktis dibawa ke kantor dan beratnya masih cukup rasional untuk ku jinjing jalan-jalan.</p>
<p>Setelah membuat banyak perbandingan, pilihan jatuh pada <a title="Dahon Speed P8" href="http://www.dahon.com/bikes/2010/speed-p8" target="_blank">Dahon Speed P8</a> berwarna merah api.</p>
<p>Sepeda ini bahannya yang cukup bagus dan lentur sehingga tidak terlalu keras ketika mengalami benturan, harga yang berada dalam kisaran tengah, berat 12 kg.</p>
<p>Maka dipesankanlah sepeda tersebut yang sudah seminggu ini saya tunggangi untuk perjalanan pulang pergi ke kantor.</p>
<p>Pengalaman kembali bersepeda ini cukup mengasikan. Apalagi kemarin saya tidak membawa kaos ganti untuk pulang. Sehingga pulang kerumah dengan pakaian kantor lengkap, mengayuh sepeda malam hari.</p>
<p>Tentu saja tak lupa selain sepeda, peralatan keselamatan utama sudah terpasang, yaitu lampu depan dan belakang dan helm.</p>
<p>Satu point yang selalu sama dengan sepeda manapun yang pernah saya punya adalah sadel. Entah mengapa saya tidak pernah cocok dengan sadel standar bawaan. Jadi mau tak mau harus sangat mempertimbangkan untuk menggantinya dengan sadel lain yang lebih nyaman.</p>
<p>Sudah ada beberapa pilihan untuk sadel baru yang rencananya akan di hunting besok sambil mampir ke pameran di JHCC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2010/03/13/bersepeda-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Ubuntu 9.10 Karmic yang saya pakai</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/12/26/tentang-ubuntu-9-10-karmic-yang-saya-pakai/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tentang-ubuntu-9-10-karmic-yang-saya-pakai</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/12/26/tentang-ubuntu-9-10-karmic-yang-saya-pakai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 12:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[9.10]]></category>
		<category><![CDATA[karmic]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah pengalaman saya menggunakan ubuntu 9.10 dari semenjak dia lahir hingga sekarang. Ubuntu 9.10 ini hadir dalam mesin saya dalam prosesi upgrade dari 9.04 menggunakan mode net upgrade. Peringatan : Tulisan ini mungkin tidak lengkap dan bersifat subjektif. Suka Kecepatan loading yang lebih baik Interaksi yang lebih baik dan nyaman Stabilitasnya makin hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah pengalaman saya menggunakan ubuntu 9.10 dari semenjak dia lahir hingga sekarang. Ubuntu 9.10 ini hadir dalam mesin saya dalam prosesi upgrade dari 9.04 menggunakan mode net upgrade.</p>
<p>Peringatan : Tulisan ini mungkin tidak lengkap dan bersifat subjektif.</p>
<p>Suka</p>
<ul>
<li>Kecepatan loading yang lebih baik</li>
<li>Interaksi yang lebih baik dan nyaman</li>
<li>Stabilitasnya makin hari makin baik</li>
<li>Dual head terasa lebih baik dan terfasilitasi dengan lebih baik</li>
</ul>
<p>Benci</p>
<ul>
<li>Saya biasa menggunakan mode text bila akan melakukan dialup ke hp 3G saya menggunakan bluetooth. Tapi ternyata rfcomm tidak langsung aktif. Dan belum sempet mencari lebih lanjut mengapanya. Untuk bisa melakukan dialup saat ini harus menggunakan blue-man, yang lalu mengkonekan hp dengan laptop dahulu, baru melakukan dialup lewat preconfig di menu &#8220;Edit Connections&#8221;</li>
<li>Firefox terasa jauh lebih berat memakan resource dibanding waktu 9.04. Tapi bisa jadi ini terjadi karena versi firefoxnya juga lebih baru dibanding waktu menggunakan 9.04. Tapi yang pasti dengan kondisi plugin/addon yang sama dengan waktu menggunakan 9.04, penggunaan cpu sering kali tahu-tahu bertahan di 100%.</li>
<li>Eclipse yang saya pakai mendadak berantakan. Banyak tulisan dalam combo box menjadi tak nampak (dan belum sempat saya coba untuk me-resolve-nya)</li>
<li>Beberapa codec tidak berjalan semestinya. Misalnya beberapa video yang tadinya bersuara, menjadi tidak bisa lagi bersuara.</li>
</ul>
<p>Anyway, busway&#8230;.</p>
<p>Saya sedang mempertimbangkan kembali untuk mengubah kembali laptop ini ke Slackware tercinta.</p>
<p>Back to Basic-lah kata orang jawa hehehe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/12/26/tentang-ubuntu-9-10-karmic-yang-saya-pakai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nunchaku dan Kutukan Pohon Kuping Gajah</title>
		<link>http://www.gauli.com/2009/12/13/nunchaku-dan-kutukan-pohon-kuping-gajah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=nunchaku-dan-kutukan-pohon-kuping-gajah</link>
		<comments>http://www.gauli.com/2009/12/13/nunchaku-dan-kutukan-pohon-kuping-gajah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 09:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Prasodjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Gauli]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>
		<category><![CDATA[Hari-Hari]]></category>
		<category><![CDATA[inc]]></category>
		<category><![CDATA[kuping gajah]]></category>
		<category><![CDATA[mules]]></category>
		<category><![CDATA[nunchaku]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gauli.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih&#8221;, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah. Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya. Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih&#8221;, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah.</p>
<p>Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya.</p>
<p>Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut kalau-kalau putarannya menyambar segala benda di sekeliling.</p>
<p>Sempat terpikir mau latihan dilapangan basket komplek biar keren keliatan tetangga. Tapi ah malu.. takut makin banyak penggemar kan repot.</p>
<p>Sementara si ganteng lagi memutar-mutar nunchaku, the darleng dan pembantu serta si bayi lagi asik ngerubutin rambutan yang baru saja di panen dari pohon di depan rumah.</p>
<p>Oh iya.. sebelumnya saya udah berlatih ilmu tongkat sakti dengan menjadikan rambutan sebagai sasaran tusukan. Dengan tongkat panjang di tusuk-tusukan agar buahnya berjatuhan. Tentu saja ngak ada yang jatuh. Orang dahannya lentur gitu. Yang ada malah muter-muter doang itu buah ditambah tangan makin lama makin pegal. Ah tapi kan gaya. hehehe</p>
<p>Karena gagal juga, sambil berdiri ditengah jalan, saya akhirnya memutuskan mengganti tusukan menjadi sabetan. Dan berhamburanlah rambutan ke bawah, entah terlempar kemana karena jelas jatuhnya jadi ngak terarah. Emang jurus perontok rambutan ini belum juga bisa di sempurnakan walaupun udah dilatih bertahun-tahun. Tapi yaa apa daya. Pembantu dan the darleng pun harus sibuk kian kemari untuk mengumpulkan rambutan. Tapi yaa semua bisa terbayar oleh nikmatnya rambutan manis yang sudah terkenal ke seantero tetangga yang menunggu jatah panen.</p>
<p>Sementara asik dengan latihan jurus perontok rambutan, seorang tamu dari tetangga melintas dengan mobilnya sambil membuka kaca. Cewek looo yang nyupir&#8230; Sambil tersenyum manis dia bilang, &#8220;Permisi pak yaa&#8230;&#8221; dan saya jawab, &#8220;Oh silahkan bu. Maaf  menghalangi jalan&#8221;.</p>
<p>Sebetulnya saya masih meneruskan, &#8220;Jadi nomor teleponnya berapa bu&#8221;. Eh dia udah nutup jendela. Sementara yang denger cuman the darleng dan pembantu yang langsung pada ngakak.</p>
<p>&#8220;Looo kok pada ngakak sihhh&#8221;, kata saya.</p>
<p>&#8220;Paraaahhhh !!!!!! Cowok sama aja&#8221;, kata pembantu saya.</p>
<p>&#8220;Lah iya dong cowok sama, tapi beda kualitas gentengnya. Kalo cowok beda-beda malah kamu yang susah ngebedainnya entar dan jadi banyak sebutan buat cowok&#8221;, kata saya lagi.</p>
<p>Saya jadi mikir, gimana yaa kalo cowok beda-beda ? Apa mungkin. Ada yang kotak, segi banyak gitu. Yaaa ngak tau lah&#8230; namanya juga cuman mikir.</p>
<p>Yak kembali ke nunchaku.</p>
<p>Asik dengan putaran kiri kanan sambil berdiri disamping pohon kuping gajah kesayangan the darleng.</p>
<p>Eh pohon itu malah nyamperin sehingga daunnya kesamber pas nunchakunya lepas dari pegangan gara-gara gerakan berputar yang asik dan dasyat tak bisa dibendung.</p>
<p>Sang pohon pun daunnya sompal. Eh tapi pohon ini kan emang daun semua ?</p>
<p>Jadi saya pun menyalahkan pohon dan yang menghampiri nunchaku-ku dan kucing yang kebetulan lewat sehingga terjadilah kecelakaan dimana daun itu tersambar dan somplak.</p>
<p>Sudah tentu somplakannya segera ku sembunyikan di bawah pot agar jejak kejadiannya semakin sulit di deteksi sambil menggunakan sarung kaki dengan gaya cubitan monyet untuk menyembunyikannya serta meyakinkan tidak adanya sidik jari kaki disitu disana.</p>
<p>Kemudian dengan wajah polos mulai kembali berlatih memutar nunchaku.</p>
<p>Eh tapi ternyata si pembantu ngeliat dan di laporinlah orang ganteng ini ke the darleng.</p>
<p>Dasar tukang ngadu. Dan akhirnya orang ganteng ini di omel-omelin oleh the darleng.</p>
<p>&#8220;Darleng, ini semua kesalahan terjadi karena kucing. Ketika sedang berlatih, kucingnya lewat dan kesamber nunchaku, lalu dia terlempar ke pohon kuping gajah itu. Nah karena dia kesel, dia ngamuk terus nyakar2x pohon kesayangan the darleng. Gitu ceritanya&#8221;, kataku jelas-jelas ngebohong.</p>
<p>&#8220;Awas yaa kalo rusak lagi&#8221;, kata the darleng.</p>
<p>&#8220;Baiklah&#8221;, kataku yang kembali memutar nunchaku sementara the darleng beranjak kembali ke teras rumah untuk kembali melatih jurus pisau pengupas rambutannya. Setibanya di teras, nunchaku yang kuputar terlempar dan terjatuh kesebuah pohon hingga tercabut dari akarnya.</p>
<p>&#8220;Hayooo ini sih gara2x apa lagi yaaa&#8221;, kata the darling.</p>
<p>&#8220;Hehehehe&#8221;, aku ketawa nyari kisah.</p>
<p>Lalu besok paginya aku dibuatkan sepiring nasi goreng oleh the darling sebelum pergi latihan ke monas. Tak lama sehabis makan nasi goreng perutku mules-mules dan berakhir dengan bolak balik harus buang air.</p>
<p>Waduh&#8230; ini kutukan Pohon Kuping Gajah atau balas dendam the darleng ???</p>
<p>Ah tapi ngak mungkinlah the darleng ngeracunin gua. The darleng kan baek kayak bebek. Jadi mungkin ini kutukan pohon kuping gajah hiiiiiiii.</p>
<p>Demikianlah kisah Kutukan Pohon Kuping Gajah yang menyebabkan hari ini, saya yang ganteng ini, ngak latihan ke monas.</p>
<p>*hick*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gauli.com/2009/12/13/nunchaku-dan-kutukan-pohon-kuping-gajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

