M. Prasodjo & Shinta K

Just AnyThing We Want To Write

Archive for the ‘curhat’ Category

Nunchaku dan Kutukan Pohon Kuping Gajah

without comments

“Darleng, ambilin nunchaku ayah dong ? Pengen latihan nih”, kataku sore itu di hari sabtu sore sambil berdiri di depan rumah.

Maka sang darleng pun beranjak kedalam mengambilkan nunchaku karet buatan Tokaido (tolong dibacanya lengkap ya, jangan 3 huruf depan doang) dan menyerahkannya.

Dimulailah latihan kecil di halaman depan rumah yang sempit dengan sedikit takut-takut kalau-kalau putarannya menyambar segala benda di sekeliling.

Sempat terpikir mau latihan dilapangan basket komplek biar keren keliatan tetangga. Tapi ah malu.. takut makin banyak penggemar kan repot.

Sementara si ganteng lagi memutar-mutar nunchaku, the darleng dan pembantu serta si bayi lagi asik ngerubutin rambutan yang baru saja di panen dari pohon di depan rumah.

Oh iya.. sebelumnya saya udah berlatih ilmu tongkat sakti dengan menjadikan rambutan sebagai sasaran tusukan. Dengan tongkat panjang di tusuk-tusukan agar buahnya berjatuhan. Tentu saja ngak ada yang jatuh. Orang dahannya lentur gitu. Yang ada malah muter-muter doang itu buah ditambah tangan makin lama makin pegal. Ah tapi kan gaya. hehehe

Karena gagal juga, sambil berdiri ditengah jalan, saya akhirnya memutuskan mengganti tusukan menjadi sabetan. Dan berhamburanlah rambutan ke bawah, entah terlempar kemana karena jelas jatuhnya jadi ngak terarah. Emang jurus perontok rambutan ini belum juga bisa di sempurnakan walaupun udah dilatih bertahun-tahun. Tapi yaa apa daya. Pembantu dan the darleng pun harus sibuk kian kemari untuk mengumpulkan rambutan. Tapi yaa semua bisa terbayar oleh nikmatnya rambutan manis yang sudah terkenal ke seantero tetangga yang menunggu jatah panen.

Sementara asik dengan latihan jurus perontok rambutan, seorang tamu dari tetangga melintas dengan mobilnya sambil membuka kaca. Cewek looo yang nyupir… Sambil tersenyum manis dia bilang, “Permisi pak yaa…” dan saya jawab, “Oh silahkan bu. Maaf  menghalangi jalan”.

Sebetulnya saya masih meneruskan, “Jadi nomor teleponnya berapa bu”. Eh dia udah nutup jendela. Sementara yang denger cuman the darleng dan pembantu yang langsung pada ngakak.

“Looo kok pada ngakak sihhh”, kata saya.

“Paraaahhhh !!!!!! Cowok sama aja”, kata pembantu saya.

“Lah iya dong cowok sama, tapi beda kualitas gentengnya. Kalo cowok beda-beda malah kamu yang susah ngebedainnya entar dan jadi banyak sebutan buat cowok”, kata saya lagi.

Saya jadi mikir, gimana yaa kalo cowok beda-beda ? Apa mungkin. Ada yang kotak, segi banyak gitu. Yaaa ngak tau lah… namanya juga cuman mikir.

Yak kembali ke nunchaku.

Asik dengan putaran kiri kanan sambil berdiri disamping pohon kuping gajah kesayangan the darleng.

Eh pohon itu malah nyamperin sehingga daunnya kesamber pas nunchakunya lepas dari pegangan gara-gara gerakan berputar yang asik dan dasyat tak bisa dibendung.

Sang pohon pun daunnya sompal. Eh tapi pohon ini kan emang daun semua ?

Jadi saya pun menyalahkan pohon dan yang menghampiri nunchaku-ku dan kucing yang kebetulan lewat sehingga terjadilah kecelakaan dimana daun itu tersambar dan somplak.

Sudah tentu somplakannya segera ku sembunyikan di bawah pot agar jejak kejadiannya semakin sulit di deteksi sambil menggunakan sarung kaki dengan gaya cubitan monyet untuk menyembunyikannya serta meyakinkan tidak adanya sidik jari kaki disitu disana.

Kemudian dengan wajah polos mulai kembali berlatih memutar nunchaku.

Eh tapi ternyata si pembantu ngeliat dan di laporinlah orang ganteng ini ke the darleng.

Dasar tukang ngadu. Dan akhirnya orang ganteng ini di omel-omelin oleh the darleng.

“Darleng, ini semua kesalahan terjadi karena kucing. Ketika sedang berlatih, kucingnya lewat dan kesamber nunchaku, lalu dia terlempar ke pohon kuping gajah itu. Nah karena dia kesel, dia ngamuk terus nyakar2x pohon kesayangan the darleng. Gitu ceritanya”, kataku jelas-jelas ngebohong.

“Awas yaa kalo rusak lagi”, kata the darleng.

“Baiklah”, kataku yang kembali memutar nunchaku sementara the darleng beranjak kembali ke teras rumah untuk kembali melatih jurus pisau pengupas rambutannya. Setibanya di teras, nunchaku yang kuputar terlempar dan terjatuh kesebuah pohon hingga tercabut dari akarnya.

“Hayooo ini sih gara2x apa lagi yaaa”, kata the darling.

“Hehehehe”, aku ketawa nyari kisah.

Lalu besok paginya aku dibuatkan sepiring nasi goreng oleh the darling sebelum pergi latihan ke monas. Tak lama sehabis makan nasi goreng perutku mules-mules dan berakhir dengan bolak balik harus buang air.

Waduh… ini kutukan Pohon Kuping Gajah atau balas dendam the darleng ???

Ah tapi ngak mungkinlah the darleng ngeracunin gua. The darleng kan baek kayak bebek. Jadi mungkin ini kutukan pohon kuping gajah hiiiiiiii.

Demikianlah kisah Kutukan Pohon Kuping Gajah yang menyebabkan hari ini, saya yang ganteng ini, ngak latihan ke monas.

*hick*

Written by M. Prasodjo

December 13th, 2009 at 4:08 pm

Privacy, dulu dan kini

without comments

Saya terlibat satu pembicaraan kecil dengan teman setelah melihat sebuah foto dimana wajah saya tampak disitu dan seorang kawan men-tag saya.

Fotonya biasa saja, bahkan saya sedang di kerubuti para bidadari hehe. Tapi yang sedikit tersentil adalah, kalau dulu rasanya sangat mudah kita membuat persembunyian untuk tak di ketahui orang. Tapi untuk saat ini, walaupun kita sudah bersembunyi sebaik-baiknya, tetap saja bisa muncul dimana saja dari kisah orang lain. Baik itu blog atau site2x jejaring sosial seperti facebook yang sekarang ini sedang booming.

Informasi yang beredar bisa muncul dari mana saja, bocor dari mana saja dengan begitu banyaknya forum dan situs jejaring sosial yang terus bertambah. Dan informasi tersebut semakin mudah pula di temukan dengan tersedianya situs pencari yang semakin canggih.

Sementara itu, banyak orang yang kurang tahu kalau atas persetujuannya informasi-informasi miliknya, termasuk yang pribadi diberikan untuk di komersilkan atau untuk keperluan lainnya ketika mendaftarkan diri pada sebuah site. Google atau facebook misalnya. Pada saat mendaftar kita telah menyetujui dan memperbolehkan mereka menggunakan informasi-informasi milik kita untuk kepentingan mereka.

Saya sendiri beberapa kali pernah melakukan hunting secara serius terhadap informasi-informasi seseorang menggunakan situs pencari. Dan hasilnya cukup luar biasa.

Memang, dengan kondisi tersebut, akan banyak pula terjadi pemalsuan informasi. Tapi rasanya jauh lebih banyak informasi dan jejak elektronik lainnya kita tinggalkan dimana-mana.

Terbayang bagaimana nanti, para anak bisa di awasi dengan cukup mudah oleh para orang tua, tapi para orang tua juga akan sulit membatasi informasi yang masuk ke anak-anaknya.

GPS tracking juga sudah menjadi barang yang murah dan mudah didapat, sementara fasilitas untuk melakukan tracking juga semakin canggih. Barangnya juga tidak seperti dulu lagi. Sekarang ini bisa sangat kecil, bahkan bisa disamarkan sebagai gantungan kunci misalnya.

Mau tidak mau, masa masa berkurangnya privacy akan semakin dekat dan sangat mungkin akan segera terjadi.

Jadi….. berhati-hatilah….

Written by M. Prasodjo

November 4th, 2009 at 2:52 pm

Mengikuti Canon Photomarathon indonesia 2009

with 8 comments

Hari ini saya mengikuti acara Canon Photomarathon Indonesia 2009 yang diadakan di Taman Fatahillah.

Sekitar tepat pukul 06.30 saya telah hadir dilokasi untuk mulai melakukan registrasi ulang ditempat.

Mengantri dalam antrian yang lumayan panjang, dipilihlah salah satu tenda dengan tulisan “SLR” diatasnya lalu dengan sabar menunggu giliran. Lalu saya melihat tenda ke-2 dari kiri, mulai orang mengantri (sebelumnya kosong), sehingga saya yang sudah ada ditengah memutuskan untuk berpindah ke tenda tersebut yang juga diatasnya tertulis “SLR”. Jadi ini adalah part 2 saya mengantri untuk daftar ulang.

Setelah tiba giliran saya, ternyata tenda tersebut hanya dikhususkan bagi mereka yang pendaftarannya bermasalah padahal, tenda tersebut tidak menunjukan tanda apapun selain tanda yang sama persis dengan tenda2x lainnya. Alhasil saya harus melakukan mengantri part 3 yang lebih panjang ketika saat saya mengantri pertama kali.

Setelah tiba giliran saya, ternyata nama saya tidak ada dalam daftar. Beruntung semua lengkap. Tanda terima ada, foto kopi ktp ada, bukti transfer ada, email bukti pendaftaran ada, email bukti terima transfer ada. Tapi saya diminta untuk pindah dan kembali MENGANTRI di tenda “bagi yang pendaftarannya bermasalah”, yaitu tenda ke-2 dari kiri, yang sudah menjadi panjang. Dan terjadilah ngantri part 4.

Akhirnya tiba giliran saya di layani di antri part 4 ini. Ternyata nama saya tidak ditemukan dan saya diminta untuk kembali MENGANTRI LAGI di tenda (barangkali) bagi “YANG PALING BERMASALAH” yaitu tenda paling kiri. Dan terjadilah NGANTRI part 5.

Setelah tiba bagian saya dilayani, karena sang penjaga melihat barang bukti lengkap semua, dia meminta saya untuk MENGANTRI LAGI di barisan pendaftaran normal. Tapi kali ini saya jelaskan bahwa saya dari sana dan ini sudah ke-5 kalinya saya antri. Lalu datanglah seseorang (salah satu manager), dia mengecek sendiri dan mengajak saya dan beberapa orang yang juga dalam situasi “sangat bermasalah” ini untuk berpindah ke antrian “kaum normal”. Walaupun langsung “menyodok” melalui pinggir mereka yang sedang mengantri, tapi kaum “sangat bermasalah” ini juga tidak sedikit. Sehingga tercipta antrian kecil disitu dan terjadilah pengalaman mengantri part 6.

Total waktu saya mengalami di jemur dibawah terik matahari sambil membawa semua perangkat saya adalah sekitar 1 jam 30 menit. Perasaan lelah dikaki sudah mulai terasa. Karena selain capek antri, panasnya emang ngak kira-kira.

Kasus registrasi yang ngawur dan melelahkan ini jelas sangat menunjukan ketidaksiapan panitia menangani pendaftaran.

Ketika nama saya tidak ditemukan, salah satu dari mereka, berpindah-pindah laptop untuk mencari dalam database.

Kesan saya, tidak ada singkronisasi data disitu. Kalau begitu kenapa harus pakai cara rumit. Hingga sekarang, saya tidak pernah tau apakah nama saya terdaftar dalam database tersebut atau tidak. Yang pasti saya melihat sendiri nomor dan nama peserta saya dicatat di balik daftar peserta hasil print out.

Lomba ini terdiri dari 2 sesi.

Sesi pertama dimulai dan semua dipersilahkan memotret APAPUN di dalam lingkungan Fatahillah hingga jam 9.30. Pada pukul 9.20 – 9.30, panitia akan menampilkan jam di layar yang terdapat di panggung, dan semua peserta diwajibkan untuk memotret jam tersebut sebagai tanda selesainya sesi pertama, bila tidak memotretnya maka akan di diskualifikasi dari sesi pertama.

Jepret sana jepret sini hingga waktu habis dan mencoba memotret layar bertuliskan jam yang dengan mata telanjang pun SANGAT SUSAH UNTUK DILIHAT. Mau motret tulisan jam-nya ???? Selamat berjuang memotret dalam waktu 10 menit tersebut melawan 1000 tukan jepret yang juga mencoba memotretnya.

Sekitar pukul 9.25, mendadak diumumkan bahwa sesi pertama ini bertemakan “TUA”/”JADUL”. Hebat !!!!! Tema baru diberikan di akhir sesi. Tapi diakhir lomba diumumkan kalau tema tersebut dibatalkan, sehingga menjadi foto bebas.

Sesi ke-2, bertemakan “Ekspresi” dan diharuskan mengambil di luar wilayah Museum Fatahillah. Perasaan lelah sudah lebih lekat dan mood sudah mulai terbang. Walau mencoba mengambil beberapa jepretan tapi yaa sudah sekenanya saja. Tapi mendadak timbul pertanyaan. Bagaimana dengan model releasenya ? Bagaimana kalau foto itu menang dan sang pemilik wajah tidak terima ? Tanggung jawab siapakah itu ? Fotografernya ? atau panitia ?

Beberapa orang saya dengar ternyata sedang mendiskusikan hal yang sama.

Sesi ke-2 berakhir pukul 11. Dan kembali diharusnya untuk memotret jam yang nampak samar2x tersebut diantara ribuan orang.

Capek, foto sesi ke-2 saya pilih asal dan saya serahkan dalam CF ke panitia.

Acara motret dilanjut dengan memotret model yang disediakan. Entah berapa banyak model yang ada. Soalnya saya sudah betul-betul lelah akibat panas, ditambah kaos wajib peserta yang tahan keringat sehingga panasnya semakin terasa, dan tangan sudah mulai gemetar. Akhirnya saya putuskan untuk mengistirahatkan diri saja dulu.

Mendekati akhir acara di sore hari, ada presentasi foto. Sayangnya layar maya di panggung tetap sulit di lihat dengan mata telanjang dan hanya sedikit jelas dari sudut tertentu saja.

Sore hari pengumuman door price.

Dengan sebuah program, terlihat nomor-nomor diacak dilayar yang kini sudah mulai nampak jelas. Salah satu nomor peserta yang keluar (disertai nama dibawahnya), adalah rekan dari kawan saya yang saat itu tidak bisa hadir diacara karena ada keperluan mendadak sehingga tidak mengikuti registrasi ulang sama sekali. Mendengar hal tersebut, saya berkesimpulan bahwa nomor yang ditampilkan diambil dari pendaftaran online. Lalu saya teringat kalau pada waktu pendaftaran ulang, nama dan nomor peserta saya tidak tertera disana. Hemmm… apakah nama saya ada disana ? Apakah diinput ulang kekurangan datanya ? Rasanya hanya mereka yang tahu. Tapi saya biasanya ngak pernah menang kalo undian gini hehe. Tapi boleh dong ngarep dot kom dapet hadiah printer.

Akhir acara yaitu pengumuman pemenang lomba.

Setelah menanti cukup lama demi melihat pesan sponsor yang puanjang sekali dan luama sekali, akhirnya pemenang diumumkan, setelah sebelumnya disebutkan para finalis dari setiap sesi-nya. Alhamdulillah, nama saya disebut sebagai salah satu finalis.

Salah satu pemenang, yaitu juara 2, tidak hadir, sehingga di diskualifikasi. Duh… sayang sekali. Padahal itu adalah sebuah prestasi, tapi harus di gugurkan sehingga sang juara 3 diangkat menjadi juara 2. Pedih banget pasti rasanya sang juara 2 yang sebenarnya. Padahal alamat jelas ada di panitia, karena semua mengumpulkan foto kopi ktp.

Akhirnya saya tetap menjadi finalis karena tidak menang menjadi juara hehehe.

Ada beberapa hal tentang foto pemenang yang ditampilkan, cuma saya pengen liat lagi dengan jelas sebelum menulis lebih banyak tentang foto hasil karya pemenang tersebut. Semoga ada yang mempublikasikan foto2x tersebut.

Yang pasti kesan saya adalah, para panitia masih kurang persiapan sehingga banyak hal yang kurang diperhitungkan yang sedikit banyak merugikan sebagian peserta. Semoga yang berikutnya akan lebih baik lagi.

Written by M. Prasodjo

October 10th, 2009 at 10:45 pm

Posted in curhat

Bila anda tidak ingin lagi menerima email, silahkan unsub sendiri ?

without comments

Belakangan ini saya banyak menerima email-email yang isinya untuk saya tidak berguna.

Isinya berbagai macam. Dari tawaran produk, iklan, seminar, berita artis dan lain sebagainya. Walaupun pada akhirnya didaftarkan ke dalam daftar SPAM, tapi tetap saja menerima email seperti ini sangat menjengkelkan.

Kenapa saya yang tidak ingin menerima email seperti ini harus bersusah susah untuk melakukan unsubscribe.

Akan lain masalahnya kalau saya dengan kesadaran sendiri melakukan subscribe ke milis atau newsletter tertentu. Lah ini kapan juga saya pernah merequest untuk menerima berita sampah sejenis ini yang hanya masuk ke tong sampah SPAM tanpa saya baca sama sekali ? Bukan hanya menuh-menuhin inbox dan ngelama2xin transfer pada saat ngambil, tapi pasti akan menyebalkan untuk menerima sampah terus menerus bukan ?

Semestinya mereka ini bertidak “SOPAN” dengan menawarkan untuk subscribing, bukannya subcribe paksa lalu disuruh unsubscribe sendiri kalau tidak mau.

Gebleknya yang ngirimin kayak gini justru dari perusahaan-perusahaan yang orang marketingnya kurang belajar sopan santun atau etika ber-internet.

Written by M. Prasodjo

July 20th, 2009 at 9:22 pm

Posted in basbang, curhat, gerem

IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN!

with one comment

Ibu prita ditahan karena menulis surat keluhan melalui internet. Kasus ini kini sedang ramai dibicarakan. Penahanan karena mengeluhkan di Indonesia ini ngak cuma satu ini. Hanya saja yang lainnya “terlupakan”. Dan seringnya memang begitu. Ramai, ramai, ramai, lalu hilang begitu saja dari peredaran. Tidak ada lagi kisah-kisahnya.

Tidak hanya masalah ini, tapi misalnya tentang bencana. Kasus lapindo ? samar samar terdengar. Nasib para korban Situ Gintung ? Tak lagi ada kisahnya. Kemana perginya media yang tadinya ramai mengerumuni berita itu ?

Ngak kebayang kalau liat keluhan pelanggan di surat kabar yang seringkali banyak sekali berkaitan dengan layanan sebuah perusahaan atau rumah sakit dan lainnya. Berapa banyak dari mereka (para perusahaan) yang akan berpikir untuk melakukan tindakan serupa ?

Ngak kebayang juga apakah akan menjadi ajak bertindak seenak perut bagi para penyelenggara layanan kepada para pelanggannya karena anda tidak bisa mengeluh.

Saya sendiri punya pengalaman mengeluhkan layanan ke penyedia layanan publik. Dan beberapa kali kejadian tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya kisah “akan kami tindak lanjuti” yang entah sampai kapan akan dilakukan dan jelas jangan berharap akan ada kabar apapun dari mereka. Hanya dengan berteriak sekeras-kerasnya melalui media entah blog entah milis, baru mendapatkan perhatian.  Atau bisa juga anda mendapat perhatian dengan membawa pengacara yang jelas untuk itu anda perlu merogoh saku anda entah seberapa dalam.

Tapi dengan adanya kasus-kasus sejenis ini, apa yang akan terjadi ?

Seandainya semua pasal yang digunakan menjerat Ibu Prita ini sukses, kayaknya akan menjadi image buruk, bahwa nantinya “barang siapa mengeluhkan sesuatu melalui media publik bisa langsung masuk bui”.

Yang jelas, para penyelenggara layanan bisa dipastikan punya cukup dana untuk mengedepankan pengacara. Sementara tak semua pengguna layanan mampu melakukan hal itu.

Written by M. Prasodjo

June 5th, 2009 at 12:31 am

Posted in Opini, curhat, unek-unek

Resensi Buku: Paman Gober Edisi 114 Tahun 16

without comments

Udah lama pengen  nulis ini tapi kelupaan mulu.

Saya adalah penggemar buku dan salah satunya termasuk penggemar donald bebek dan keluarganya. Setiap bulan selalu membeli buku2x baru. Bahkan hari ini sangat kebetulan sekali, ditoko buku yang menjual buku2x bekas saya memborong buku2x “Paman Gober” edisi tahun 2 dan tahun 1. hehehe.

Tapi ketika membaca “Paman Gober” Edisi 114 Tahun 16,  dihalaman 77, cerita berjudul “Super Donal: Harta Dolce Paprika“, rasanya agak lain. Cerita ini mengisahkan bagaimana sang Super Donald, melakukan aksi balas dendam karena ketidak sukaannya pada Paman Gober dan kekesalannya karena Desi akan pergi ke pesta dengan Untung Bebek dengan melakukan FITNAH.

Cerita sejenis ini rasanya koq lain dengan kebiasaan-kebiasaan kisah cerita dari Walt Disney’s ini ?

Tidakkah mereka sadar kisah seperti ini seharusnya tidak layak dan tidak sepantasnya di terbitkan karena akan menjadi pelajaran buruk bagi anak2x yang membacanya.

Seharusnya editor lebih meneliti kembali kualitas kisah2x yang akan diterbitkan dong.

Written by M. Prasodjo

March 10th, 2009 at 2:36 am

Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian

with one comment

Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.

Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?

Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.

Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.

Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena.  Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.

Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI

Written by M. Prasodjo

February 26th, 2009 at 7:13 am

Posted in Opini, curhat, unek-unek

Trisemester Kedua Kehamilanku

with 3 comments

Kini aku sudah meninggalkan trisemester kedua dan memasuki trisemester ketiga. Pengalaman trisemester kedua sendiri tidak begitu tercatat dan terasa. Maklum, ditrisemester kedua ini banyak sekali deadline yang harus dikejar dan dikerjakan. Banyak kesibukan menyenangkan yang membuatku tidak mencatat secara detil hari perhari.
Hal paling menyenangkan dan berkesan saat memotret (3D) babyku tersayang. Sangat luar biasa mengetahui seorang anak yang begitu tampan tumbuh di dalam perutku.

Read the rest of this entry »

Written by shinta

August 18th, 2008 at 9:41 pm

Posted in curhat, gauli

HSBC Menyamar Sebagai Tiki ????

with 2 comments

Berkali-kali telp rumah menerima telp dari seseorang yang mengaku dari TIKI yang akan mengantarkan barang yang katanya alamatnya tidak lengkap karena hanya menyebutkan nama komplek tempat tinggal saya saja tanpa nomor dan alamat jelas.
Akan tetapi dia memiliki nama dan nomor telp.

Pada tanggal 13 Mei 2008, Penelepon tersebut menggunakan nomor 021-52964105 menelepon ke nomor HP saya.
Pada waktu itu, sambil berbicara di telp yang sengaja saya lama-lamakan, saya melakukan pencarian via om google terhadap nama perusahaan yang dikatakan mengirimkan paket tersebut dan nomor telepon yang tertera di hp saya.

Hasilnya adalah tadaaaaaaaaaaaaaaaaa………….

http://www.yellowpages.co.id/business_profile.aspx?id=A120725H38

Nomor tersebut adalah nomor milik HSBC

Jadi pertanyaan dia yang menanyakan alamat lengkap dan lain sebagainya ku jawab aja asal-asalan.

Jadi hati-hati bila menerima telepon yang menanyakan macam-macam apalagi sampai menanyakan data pribadi.

Written by M. Prasodjo

May 15th, 2008 at 9:59 pm

Posted in Info, Sharing, curhat

UU ITE: Antara Homosuperior dan Homosapien

with 3 comments

Indonesia sekarang ini telah resmi miliki UU ITE. Tapi apakah efektif ?

Dunia ini dihuni oleh sekelompok mahluk homosuperior yang menghuni dunia maya, dan sisanya adalah kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata. Diantara keduanya ada masyarakat kaum ampibi yang hidup di kedua dunia.

Kaum homo sapien yang menghuni dunia nyata, kini berniat menerapkan aturan dunia mereka pada dunia kaum homo superior yang hidup di dunia maya. Tentunya hal ini hanya dimungkinkan bila mereka memiliki pasukan ampibi yang cukup untuk mengawasi segalanya. Tanpa mengenal dunia maya, jelas akan sulit menerapkan apapun dari dunia nyata kedalamnya. Dan diperlukan pendidikan yang cukup sehingga tidak terjadi munculnya kaum “Ampibi Wannabe” yang berkeliaran menuduh ke kiri dan ke kanan tanpa dasar dan pengetahuan yang mungkin bagi kaum homosapien di dunia nyata terdengar hebat tapi merupakan guyonan yang sangat tidak lucu bagi masyarakat dunia maya yang dihuni kaum homosuperior.

Read the rest of this entry »

Written by M. Prasodjo

March 28th, 2008 at 3:05 pm