Archive for February, 2009
Permen sebagai alat pembayaran eh kembalian
Saat ini kalau kita berbelanja dimana pihak penjual harus memberikan kembalian dalam nilai ratusan rupiah seringkali bukannya dikasih uang tapi malah dikasih permen.
Tapi coba anda melakukan pembayaran dengan permen ? Maukah mereka ?
Ini terjadi di mini market yang berada di salah satu perusahaan besar (sekali) di Indonesia, dimana waktu saya membeli sesuatu dikasih kembalian permen sebagai pengganti uang Rp. 300,-. Tadinya saya cuek aja dan menerimanya. Tapi ketika sampai dipintu keluar, saya teringat kalau ada yang lain yang ingin saya beli.
Karena nilainya mengandung 200 rupiah, saya kembalikan 2 permen. Tapi ternyata ditolak. Dia tidak menerima pembayaran berupa permen. Padahal permen itu dari dia juga. Karena itu saya juga ngotot untuk mendapat kembalian dalam wujud uang dan bukan permen.
Rasanya perlakuan permen menjadi alat pembayaran kembalian ini makin semena-mena. Konsumen tidak diperbolehkan menolak penjualan paksa permen ini yang setiap butirnya dihargai Rp. 100,-.
Kalau memang permen ini adalah alat pembayaran, mustinya segera diresmikan dong “Permen sebagai mata uang RI“
Twilight
Baru setengah buku ini saya baca. Twilight karangan Stephenie Meyer, yang untuk versi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Gramedia.
Satu kata yang sangat banyak saya temukan dalam buku ini adalah kata “marah“. Saya tidak tahu karena belum membaca versi inggrisnya. Apakah disana ada begitu banyak kata “marah” digunakan ? Lama-lama membacanya saya menjadi tidak nyaman juga.
Dan satu hal yang aneh. Seorang vampir yang sudah sekian lama menjaga rahasia dirinya bisa mengungkapkan jati dirinya dengan sangat mudah ?
Tapi mungkin nanti saya perbaiki resensi ini kalau saya berkesempatan menyelesaikan membacanya.
Resensi Buku: The Black Magician Trilogy
Belum lama ini saya menghabiskan buku “The Black Magician Trilogy” yang terdiri dari
- Magicians’ Guild (Persekutuan Penyihir)
- The Novice (Rahasia Sihir Hitam Mematikan)
- High Lord (Sang Ketua Penyihir)
Untuk versi bahasa indonesia, buku ini diterbitkan oleh Mizan Fantasi.
Menurut saya cerita dalam buku ini cukup menarik. Berkisah tentang seorang gadis kecil yang tak disadarinya ternyata memiliki potensi kekuatan sihir yang besar. Sejumlah petualangan, menarik gadis kecil ini lebih jauh kedalam dunia sihir sehingga sihir yang sebelumnya dibencinya menjadi bagian tak terpisah dari hidupnya.
Terjemahan buku ini menggunakan bahasa yang cukup enak. Walaupun sejumlah ilustrasi yang disisipkan dalam gambar rasanya tidak perlu dilakukan karena rasanya merusak imaginasi bacaan dengan menyisipkan gambar. Bagi saya seakan mengeluarkan saya sejenak dari dunia buku yang sedang saya dalami.
Hanya saja ada hal yang menjadikan buku ini tidak enak dibaca, yaitu editorial pada buku ke-3 yang sangat berantakan. Editorial terburuk dari ratusan buku yang pernah saya baca. Buku pertama nyaris tanpa salah ketik, buku kedua cukup banyak salah ketik, tapi buku ketiga luar biasa.
Sejumlah kesalahan yang saya temukan adalah salah sebut nama, salah ketik, kata-kata yang ditulis berulang-ulang, ada bagian cerita yang berganti kisah, tanpa tanda perubahan.
Mungkin akan lebih nyaman bila anda membaca buku ke-3 versi bahasa inggrisnya saja atau menunggu buku revisi yang telah diperbaiki.